Archive for the ‘Puisi’ Category

Nyanyian Hening

Posted: Juli 11, 2011 in Puisi

Nyanyian hening. Aku dendangkan di sudut gelap malam, sendiri. Tanpa cahaya, tanpa warna pelangi. Hanya ada aku dan kensunyian yang bisu. Dimana hitam menjadi dewa, yang menciptakan bait-bait indah. Dan sementara aku berdiri dalam kesepian, dimana cinta datang lalu pergi. Meninggalkan perih dalam hati bersama rindu yang menyesakan dada. Aku sendiri dan masih aku sendiri.

Ketegaran bukan tentang waktu hari ini, dia melayang-layang di cakrawala hidup. Menanti jiwaku untuk segera kembali. (lebih…)

Iklan

CINTA DALAM RINDU-RINDU

Posted: Juli 10, 2011 in Cerpen, Puisi
Tag:,

Seperti rindu ini kepadamu, seperti itu pula malam terlewatkan dalam sepi dan sendiri. Aku mengejar dirimu dalam bayang-bayang, aku berlari dengan semua imaji diri. Mencari senyummu, wangi tubuhmu, harum nafasmu, manis senyum dibibirmu, indah gelak tawamu. Sosok hantu dirimu yang ingin aku tangkap di setiap sunyi ini. Menggugat hati dalam rindu. Dimana kamu?

Cinta berjarak, entah dalam jarak ribuan kilo meter, atau dalam jarak ruang dan waktu yang berbeda. Membuat cinta adalah nyanyian rindu-rindu. Dendang seorang pengelana yang kesepian. Rintihan seorang anak mengharap disusui ibunya. Dia adalah pencarian bagi jiwa ini. Dia adalah kehilangan yang tak pernah cukup dipertemukan. Dia adalah rindu dan hanya rindu. Cinta dalam rindu-rindu.. (lebih…)

Gerimis Pada Hujan

Posted: Juli 9, 2011 in Cerpen, Muntahan, Puisi

Seperti hujan gerimis, aku merasakan ketidak sungguhanku pada hujan. Setelah deras airmata kutumpahkan di lautan hidup. Entah, sudah berapa lama terik matahari menghanguskan kulit tubuh ini yang telah kusam ditelan waktu. Sepertinya tetes-tetes air mampu memberi sedikit rasa kesejukan jiwa yang gersang.

Hati nurani terkoyak dengan apa yang telah aku tangkap oleh indera ku yang buta lagi tuli. Namun aku tak berdaya sebagaimana ketidak berdayaan bumi yang ditelan hujan badai. Terbang bersama angin mengikuti arah bumi yang lamban berputar. Aku terkapar dan mati dalam kesendirian. Dimana jiwa-jiwa?! (lebih…)

Temukan Aku

Posted: Juli 7, 2011 in Puisi

Temukan aku…

Ketika bayangku hilang di kegelapan malam

Aku tidak bersembunyi

Aku juga tak pernah lari

Aku juga tak menginginkan agar bisa kau temukan

Aku hanya hilang

Menghilang dalam putaran waktu

Adakah kau lihat aku?

——

Cahaya tak bisa kau harapkan ada disini

Karena aku hidup tanpa cahaya sama sekali

Tapi dalam kegelapan aku mampu meresapi apapun yang ada di sekelilingku

Mata ini akan mampu menangkap segala bentuk yang ada dalam kegelapan

Temukan bayanganku.. sebelum aku mati dan hilang sama sekali

Biarlah cinta itu mengapung bersama helaan nafas kegelisahan

Semua selalu datang untuk pergi

Semua ada untuk menjadi tak ada

Dimana kamu dan dimana aku

Aku dan kamu tak pernah tahu

Lihatlah! bayangan kita dalam kegelapan

Temukan aku yang hilang disana

(lebih…)

Pertemuan Milikku

Posted: Juli 1, 2011 in Puisi

Ada satu titik, dimana kepasrahan menjadi jalan keluar. Membuang semua keinginan jauh dari hati. Meletakan dunia serta surga-neraka jauh dari tujuan. Maka kamu akan sampai pada satu perjamuan indah yang menyejukan. Cinta telah sampai pada kesejatian yang sebenarnya. Tanpa mengharap, hanya duduk bersimpuh dalam pandangan tertunduk. Mengucap sebaris kata, “Aku mencintai MU” …berkali-kali

Lalu jatuh dalam tubuh yang berguncang  menangis meraung, tanpa kuasa menjabarkan keindahan rasa. Bersetubuh dalam hening malam dan sendiri, dalam hujan airmata. Mengemis, mengiba dan meratap agar waktu berhenti selamanya.”Jangan!.. Jangan lagi kau renggut apa yang susah payah aku raih. Aku mohon!”

(lebih…)

Bujuk Ibu

Posted: Juli 1, 2011 in Puisi

Bujuk ibu untuk mau menata kembali rumah kita. Agar tak lagi terlihat seperti kapal pecah. Lihatlah! Celana dalam Bapak tersembunyi dibawah kursi. Sedangkan baju kesayanganku berubah fungsi menjadi kain lap. Handuk Kakak pun berubah menjadi keset. Seragam sekolah Adik juga tak lagi terlihat putih, tapi sudah berwarna coklat. Tolong, bujuklah ibu..

Siapa yang akan menghidangkan makan? Kalau bukan ibu yang memasak?. Bapak hanya pandai mencari uang, aku hanya tahu menggunakan semua yang sudah tersedia, Kakak sibuk dengan tunangannya, Adik selalu keasikan main Play Station. Sudah pasti kita kelaparan. Bujuklah ibu…

(lebih…)