Hilang Dan Hampa

Posted: September 14, 2011 in Cerpen

Ada yang tiba-tiba serasa hilang dari apa yang ada di dalam hati.

“Ren, cepat pulang, Nak. Mama tunggu di rumah”

Sebuah ruang yang tiba-tiba menjadi kosong, ruang yang dulu sempat terisi oleh sosok orang yang dicintai. Ruang itu senantiasa masih sama, selama kita masih bisa mendapatkan sosok dirinya. Walau hanya sekedar suara, atau hanya berwujud dalam tulisan. Dia masih tetap ada dalam ruang itu.

“Ingat pesan papa, selesaikan studimu itu. Jangan kau jalani semua itu dengan niat yang tidak sungguh-sungguh! Anak papa harus sukses!”

Ketika, tiba-tiba sosok itu hilang dalam kehidupan, meskipun jasadnya masih bisa kita peluk. Ruang yang tiba-tiba kosong menghantarkan hampa bersama letupan-letupan kecil dalam dada. Membangkitkan kesadaran, bahwa sosok dirinya tidak akan bisa kita temui lagi selama-lamanya.

“Kuatkan hatimu, Nak. Papa sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya…”

Letupan itu juga menghadirkan sesak yang tiba-tiba terasa. Mendesak-desak dalam sakit yang perlahan mulai menyusup  lalu menghujam. Merobek kantung-kantung air hujan dari awan hitam untuk segera jatuh.

“Papaaaa…..!! Baanguun.., Pa! Ini Renata, Pah! Jangan tinggalin Renata, Pah…!! Bangun, Pah! Banguuunn…!!”

Menjerit dalam tangisan yang mengharukan. Dalam rasa hampa yang nyata, masih tidak percaya bahwa sosok yang begitu dicintai telah pergi untuk selama-lamanya. Diguncang-guncangkan tubuh yang sudah tidak lagi merespon apapun yang ada di sekitarnya. Masih berharap, semua hanyalah mimpi yang sementara datang dan berakhir ketika terjaga.

“Sudah, Sayang…Ikhlaskan papamu pergi, Nak”

Bahkan tidak perduli ketika semua orang mencoba mengingatkan bahwa semua itu benar-benar terjadi.

“Tidak! Papa tidak boleh mati! Papa harus hidup! Papaaa….!! Bangun, Pa! Banguuunn…!”

Tidak ada satu orang pun yang dapat menahan jatuhnya airmata, melihat kesedihan dan rasa kehilangan itu. Suasana haru selalu menghanyutkan semua orang, meski pun kesedihan yang dirasa Renata, tidaklah benar-benar mereka ketahui.

“Sudahlah, Renata… Kasihan papamu. Ikhlaskan papamu pergi dengan tenang, Sayang..”

Oleh sebab mereka tidak begitu mengetahui bagaimana sebenarnya sakit dan sesak yang dirasa Renata. Maka semua usaha mereka untuk mengingatkan serasa percuma.

“Tidaaaaakk….!! Papa sudah janji sama Renata! Papa mau  hadir di-acara kelulusan Renata nanti! Papa janji akan melihat Renata menikah dan punya anak! Papa sudah janji! Paah..!Bangung, Pah… Ayo banguuuun, Pah.”

Semua memang terjadi dengan begitu tiba-tiba, dan Renata tidak pernah memiliki firasat apapun tentang papanya.  Bahkan sebelumnya, mereka sempat berbincang di telfon.

“Bagaimana kabar anak papa sekarang?”

“Makin cantik dong, Pah”

“Masa sih?! Emang bisa anak papa jadi cantik?!”

“I-ih, Papa nyebelin! Papa jelek!”

Keakraban mereka sudah diketahui semua orang. Bukan karena Renata anak semata wayang yang selalu manja, tapi karena mereka memang seperti itu sejak Renata masih kecil. Papa adalah sosok orang tua yang selalu bisa mengikuti perkembangan hidup anaknya, menjadi teman bermain, sahabat, sekaligus orang tua. Seperti saat bermain masak-masakan, berpura-pura menjadi seorang ibu, dan bahkan rela didandani oleh Renata dengan peralatan makeup Mamanya.

“I-ih, papa diam dong! Masa mau didandanin ketawa-ketawa terus. Jadi jelek kan?”

“Iya. iya.. tapi, kok, papa jadi mirip kaya badut sih?”

“I-ih, makanya papanya diem doong! pasti gak jadi kaya badut, deh”

“Masa sih?! papa bisa jadi cantik kaya mama?”

“Iya doong..”

Terlalu banyak kenangan indah yang membuat hati tidak rela untuk kehilangan sosok itu. Terlalu sakit rasa hampa yang tiba-tiba dirasa. Kemana lagi bisa ditemui jika rasa rindu itu datang? Tidak akan bisa lagi merasakan kehangatan peluknya yang penuh kasih. Kepada siapa mencurahkan semua perasaan atas persoalan hidup? Jika selama ini hanya kepada dirinya selalu berbagi.

“Anak papa kenapa lagi, nih? Kok, dari tadi pulang sekolah cemberut terus. Jelek sekali anak papa kalau lagi cemberut..”

“Bodo!”

“Lho?!”

“Pokoknya Renata gak mau sekolah lagi!”

“Weh..Weh..Weh.. ada apa gerangan rupanya?”

“Renata sebel sama Doni! Setiap hari selalu aja jailin Renata. Kesel, Paah..”

“Kurang ajar! Biar papa laporin si Doni ke Kepala Sekolah! Biar dikeluarkan dari sekolah, terus jadi orang bodoh. Setelah dia besar, biar jadi gembel sekalian!”

“Kok?”

“Iya. Papa juga mau lapor ke polisi. Biar si Doni di penjara seumur hidup. Terus biar Mama-Papanya nangis terus-terusan karena sedih anaknya di penjara. Trus sakit, trus meninggal deh. Huh!”

“Jangan, Pah.. kasihan mereka nantinya kalau begitu. Jangan laporin Doni ke polisi dan kepala sekolah ya, Pah?”

“Gak bisa! Doni sudah bikin anak kesayangan papa cemberut terus. Doni harus dihukum!”

“Paah!.. jangan ya, Pah. Please…”

“Memang kenapa?”

“Pokoknya jangan, Pah. Renata mau sekolah lagi, kok..”

“Heh? Beneran, nih?”

“He-eh”

“Ya sudah. Papa gak jadi laporin Doni ke Polisi kalau begitu”

“Janji ya, Pah?”

“Iya, Sayang.. Papa janji!”

Semua kenangan itu semakin membuat sesak dan sakit yang terasa di dalam dada, semakin membuat rindu itu semakin tak tertahan. Betapa kehampaan ingin sekali disingkirkan dari hati. Menjadi tidak kuasa menerima kenyataan ini. Semua terlalu tiba-tiba. Tidak pernah sedikitpun memberi kesempatan untuk mempersiapkan hati menerima kehilangan ini.

“Renataaa…!! Bangun, sayang! Istigfar, Nak.. Istigfar!”

Semua menjadi gelap sama sekali. Tidak sadarkan diri. Hantaman telak begitu menusuk ke dalam jiwa. Dan jika seandainya boleh memilih, mungkin lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan seperti ini. Bahkan tidak mampu untuk menjabarkan dengan pasti, bagaimana yang dirasa sesungguhnya. Ketika sadar, Renata langsung kembali dalam jerit tangisan di pelukan Mama. Memohon untuk diberi kekuatan atas apa yang dirasa. Ketegaran itu hanya sesaat didapat, terlihat dari tangisan yang mereda menjadi isakan kecil. Tapi hampa dan rindu menghantam kesadaran, betapa keinginan terbesar saat ini adalah melihat papa tersenyum lagi untuknya. Bukan dalam diam membisu dan membatu seperti itu.

“Papa, Maah… Renata kangen sama papa, Mah. Renata gak mau papa meninggal, Mah. Renata masih ingin papa hidup, Mah. Renata pengen papa, Mah…!”

Namun sepertinya, jasad itu masihlah cukup untuk sekedarnya melepaskan pelukan terakhir kali sebelum akhirnya hilang sama sekali. Dan paling tidak, mampu menjadi tempat di mana ia bisa meluapkan segenap rasa yang ada. Renata bangkit dari tempat tidur dan langsung berlari menghampiri jasad papanya lagi.

“Papaaaa….!

***

Kini, ketika sosok itu benar-benar telah hilang wujudnya. Karena jasadnya telah terkubur di dalam tanah. Di setiap sudut ruang di rumah itu, selalu saja mencari kilasan bayang dan kenangan tentang masa-masa di mana kebersamaan itu pernah ada. Tertidur di dalam kamar , dimana Papa biasa tertidur. Mencari harum tubuhnya yang khas, yang selama ini menjadi canda yang menghadirkan tawa.

“iiih! Papa bau asem! Jorok!”

“Masa sih?! Perasaan wangi, deh.”

“Bauuuu…!!”

“Wangiiii….!!”

“Papa joroook..!”

“Ganteeeeeengg…!”

“Jorok!”

“Ganteng!”

“Jorok! Jorok! Jorok!”

“Ganteng! Ganteng! Ganteng!”

“Hoekkss!!”

“Emmmuaach!”

“iiiiiih!…..Mamaaaaa…!! Tolooong…! Papa jorok, tuh!!”

“Biarin! Weeeek..!”

Tak terasa butir-butir airmata jatuh dan membasahi bantal guling yang dipeluk erat. Di mana harum tubuh papa masih melekat. Tanpa terasa pula getar bibir menahan isak tangis agar tak tumpah berlebih, meski denyut kesedihan perlahan menyusup semakin kuat dalam hati. Rindu… Renata rindu Papa.

“Pah.. Maafin Renata. Renata sayang sekali sama papa, Pah…..”

Mungkin kesadaran itu telah diraih untuk bisa mengikhlaskan kepergiaanya. Namun, biarkan semua rindu-rindu dalam tangisan itu dinikmati sesaat. Sebelum lupa mungkin akan datang kemudian. Selamat jalan, Pah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s