Menukar Kehidupan

Posted: Agustus 19, 2011 in Cerpen

Aku tidak tahu lagi apa yang aku rasa saat ini. Setelah hampir sepuluh tahun lebih membina rumah tangga dengan Keysha, kehidupan kami masih saja berada dalam harapan menunggu datangnya buah hati. Seorang anak yang mungkin bisa membuat kehidupan kami lebih ramai dan sempurna, jauh dari rasa sepi seperti yang kami rasakan selama ini. Tapi bukan berarti kehidupan kami berdua tidak bahagia, hanya saja kami berdua masih tetap merasa ada sesuatu yang kurang dalam kebahagiaan itu.

Segala cara telah kami coba, dari berobat ke dokter spesialis yang terkenal sampai pengobatan alternatif. Tapi sampai saat ini belum juga membuahkan hasil. Harapan-harapan itu masih tetap berada dalam menunggu dan bukan hal yang mudah untuk bisa bertahan dalam keyakinan untuk membesarkan hati kami berdua setelah berkali-kali gagal. Tidak dapat kami pungkiri, semakin hari semakin terasa terkikis habis keyakinan itu. Padahal dari semua hasil pemeriksaan dokter, kami berdua dinyatakan dalam keadaan sehat wal a’fiat.

Aku tidak bisa menahan kesedihan yang begitu mengguncang perasaan, ketika harus melihat Keysha bersedih setiap kali waktu menstruasinya datang. Padahal sudah hampir 2 minggu lebih telat datang dari jadwal yang biasanya. Kegembiraan yang sesaat datang, keyakinan yang tiba-tiba tumbuh lagi menjadi besar, seketika hancur lebur dan hilang sama sekali. Menjadi rasa putus asa dan jauh dari keyakinan, bahwa kami akan dapat memiliki keturunan seperti orang lain. Aku tidak kuasa melihatnya menangis terisak di dalam toilet kamar mandi, menutup wajah dengan kedua tangannya. Sakit sekali aku rasakan di dalam dada ini, melebihi rasa sakit yang Keysha rasa. Ya, Tuhan.. Apa salah dan dosa kami?

Meski rasa sakit itu begitu terasa mengguncang ketegaran diri, namun harus tetap berusaha untuk tidak menunjukan kepada dirinya akan hal itu. Setiap saat, aku harus bisa tersenyum dan terlihat tegar untuk bisa membuat dirinya kembali kepada keyakinan itu dan tersenyum. Meski aku sendiri telah jatuh pada rasa putus asa. Keysha akan menangis dalam pelukanku hingga merasa lelah, lalu tertidur. Betapa aku sendiri dibebani perasaan yang bertubi-tubi ketika melihat wajah cantiknya itu, terlelap tidur meraih mimpi-mimpi yang belum juga ia raih dalam kehidupan nyata. Sementara aku sendiri berada dalam rasa yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Ingin rasanya memaki Tuhan atas semua yang terjadi dan mempertanyakan tentang permainan hidup yang tengah Dia ciptakan? Tapi aku tahu dan tetap berusaha meyakinkan diri, bahwa aku tidak boleh melakukan itu, bahwa Tuhan Maha Sempurna, Maha Mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi setiap hamba-hamba-Nya. Dan aku? Aku diam, kembali mencoba untuk pasrah dengan apapun yang telah ditetapkan-Nya untukku.

Hingga suatu hari aku bermimpi bertemu dengan seorang Lelaki Tua berjanggut putih, serta mengenakan jubah yang sama putih lagi panjang. Dalam mimpi itu ia menuturkan bahwa aku bisa memiliki keturunan sebagaimana juga orang lain dengan syarat; kami mau menukar kehidupan kami untuk kehidupan anak kami itu, dalam artian salah satu dari kami akan mati,meninggalkan dunia ini selama-lamanya.

Awalnya aku tidak terlalu terpengaruh dengan mimpi itu, sampai saat mimpi itu terus datang setiap malam dalam cerita yang sama. Hingga mulai merasa bahwa mimpi itu sebagai petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Tapi aku merahasiakan hal ini kepada Keysha, atas dasar pertimbangan bahwa hal ini belum tentu benar. Dan seandainya pun hal ini benar adanya, aku tidak mau semua itu malah menjadi masalah baru bagi kami berdua. Tapi serta merta hal itu cukup mengganggu diriku setiap saat, karena mimpi itu seolah menunggu jawaban akan kesediaanku untuk menukar kehidupan.

Sudah jelas hal itu merupakan pilhan yang sulit. Kehidupan siapakah yang harus ditukar untuk kehidupan buah hati kami? Kehidupanku atau kehidupan Keysha? Apalah artinya semua kebahagiaan yang kami rasa? Jika pada akhirnya kami juga harus kehilangan diri kami satu sama lain. Apalah arti kebahagiaanku atas kelahiran buah hati kami, jika pada akhirnya aku harus kehilangan Keysha? Demikian juga sebaliknya, apalah arti kebahagiaan yang akan dirasakan Keysha jika pada akhirnya ia harus kehilangan diriku? Ya, Tuhan.. permainan apalagi ini??..

Sesaat sempat berfikir untuk merelakan kehidupanku sebagai pengganti kehidupan buah hati kami. Sebab merasa, bahwa selama ini tidak ada hal istimewa yang telah kulakukan dalam kehidupan ini. Aku hanya lelaki biasa dengan kehidupan biasa, bukan orang penting yang memiliki jasa atas kehidupan dalam berbangsa dan bernegara ataupun berjasa dalam kehidupan banyak orang. Aku hanya aku semata. Bahkan aku merasa bahwa, semua persoalan yang kini tengah kami alami, semua itu karena diriku dengan semua dosa-dosa masa laluku. Aku merasa telah menyeret Keysha dalam persoalan hidup yang menanggung beban atas semua dosa-dosaku. Mungkin ada baiknya, jika memberikan kebahagiaan hidup kepada Keysha dengan menukar kehidupanku demi bayi yang selama ini kami damba-dambakan. Setidaknya, aku bisa merasa bahagia telah memberikan kebahagiaan kepada dirinya. Meskipun pada akhirnya, aku juga telah memberi kesedihan dengan kematianku.

Tapi.. entahlah, aku merasa belum siap untuk meninggalkan kehidupan ini. Apalagi jika mengingat dosa-dosa yang selama ini telah kulakukan. Sepertinya kematian itu menjadi begitu menakutkan pada akhirnya. Apalagi bayang-bayang tentang siksa neraka yang begitu menciutkan nyali ini. Dan tentang surga itu sendiri? Aku tidak pernah tahu apakah mungkin surga itu akan kuraih? Sedangkan banyak dosa yang selalu ku buat selama aku hidup, sampai detik ini. Ah, benar-benar suatu pilihan yang sulit.

Jika aku menginginkan kehidupan Keysha yang menggantikan, sepertinya menjadi tidak berartinya semua kebahagiaan yang aku dapat saat anak kami lahir. Toh, selama ini yang aku inginkan adalah agar lebih bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama Keysha dan juga bersama buah hati kami tercinta. Bukan dengan kehilangan salah satu di antara kami. Apakah aku mampu hidup bersama dengan anak kami tanpa ada Keysha  dalam kehidupan ini? Aku tidak akan mampu melewati hari-hari bersama buah hati kami. Apa yang aku tahu tentang mengurus seorang bayi? Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

Akhirnya, setelah merasa yakin bahwa aku tidak mampu menukar kehidupan kami berdua demi kehadiran buah hati yang selama ini kami harapkan. Dalam mimpi itu, aku utarakan jawabanku kepada Lelaki tua berjanggut putih itu. Dan dia hanya tersenyum dalam kharisma yang ia miliki, sepertinya mengerti akan keputusan dan pilihan yang telah aku buat. Semenjak itu pula, Lelaki Tua dengan janggut putih itu tidak pernah lagi datang menemuiku dalam mimpi.

Tapi sungguh tidak aku sangka-sangka apa yang aku dapati kemudian. Pada saat menceritakan kepada Keysha perihal mimpi itu. Keysha tiba-tiba marah kepadaku karena aku telah menolak untuk menukar kehidupan demi kelahiran buah hati kami.

“Bagaimana sih kamu itu, Mas?! Kenapa kamu tidak menjawab kepada Lelaki Tua itu, bahwa aku rela menukar kehidupanku demi anak kita?! Aku rela, Mas! Asalkan kamu bisa bahagia dengan kelahiran anak kita. Aku rela, mas! Demi kamu!” ucap Keysha marah kepadaku  dalam menangis.

Sejenak tertegun, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Segera aku membantah semua perkataan Keysha,”Aku tidak akan sanggup kehilangan kamu, Sayang! Meski pada akhirya aku berbahagia memliki keturunan, buah cinta kita! Tidak tidak, jangan gila kamu! Bagaimana mungkin aku sanggup menukar kehidupanmu demi buah hati kita?! Sedangkan yang aku inginkan adalah kita hidup bahagia bersama-sama.”

Tapi semua alasanku itu juga dibantah oleh Keysha, dengan alasan bahwa selama ini yang dia inginkan adalah memberi keturunan untuk ku. Dia rela meninggalkan dunia ini, karena dia sendiri tidak kuasa menahan beban rasa, karena merasa tidak mampu memberikan keturunan yang aku idam-idamkan. Bukan hanya untukku, tapi juga keluarga besarku yang selama ini begitu berharap bisa segera menimang cucu. Mengingat aku adalah putra tunggal dari keluargaku.

Ketika mencoba menjelaskan kepadanya semua alasan yang membuat aku memilih untuk tetap bersama, dengan tidak menukar kehidupan satu diantara kami. Keysha sama sekali tidak bisa menerimanya dan malah mengatakan kepadaku bahwa aku terlalu egois karena memberi jawaban kepada Lelaki Tua berjanggut putih itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan dirinya. Sekali lagi, aku coba menjelaskan kepada Keysha akan alasannya. Dan kembali, Keysha tidak bisa menerima semua alasan yang aku berikan. Ya, Tuhan.. Ada apa lagi ini??

Secara tiba-tiba, kehidupan kami berdua berubah drastis. Keysha masih tetap menganggap diriku terlalu egois, sedangkan diriku menganggap dirinya sudah kehilangan akal sehat. Kehidupan rumah tangga kami menjadi semakin sepi. Setiap saat selalu berisi pertengkaran dan pertengkaran karena merasa paling benar atas apa yang kami pikirkan. Entahlah…

Kami jadi jarang bertegur sapa, selalu bersikap dingin di hadapan satu sama lain. Tidak ada lagi kemesraan yang biasa terjadi diantara kami. Dingin dan sepi. Bahkan, semakin hari semakin jauh, saling menghindar dengan menyibukan diri dengan pekerjaan di kantor. Sering pulang larut malam, tanpa mempertanyakan apa yang kami lakukan hingga pulang selarut itu. Bahkan, rasa cemas dan khawatir sepertinya sudah tidak lagi ada di dalam hati kami. Pertengkaran dan hanya pertengkaran yang pada akhirnya terjadi, ketika aku berusaha untuk mengembalikan semua keadaan seperti semula. Keysha masih saja menuduh aku sebagai penyebab kehidupan kami menjadi seperi sekarang ini. Ya, Tuhan.. kenapa seperti ini??

 Tidak dapat dihindari pada akhirnya, perceraian itu pun terjadi dalam kehidupan pernikahan kami. Bunga-bunga cinta yang selama ini semerbak mewangi menghiasi kehidupan kami, telah mati. Menjadi luapan kemarahan untuk saling menyakiti. Aku sempat merasa menyesal atas pilihan yang telah kubuat dulu. Andai saja aku mengetahui bahwa akan seperti ini akhirnya. Ketika pada akhirnya aku tetap kehilangan Keysha dalam kehidupanku. Mungkin aku akan lebih memilih untuk menukar kehidupan salah satu dari kami untuk kehidupan buah hati kami. Tapi… semua sudah terjadi. Aku hanya bisa kembali pasrah dengan apa yang telah di tetapkan-Nya untukku.

…..

Lima tahun berlalu.

Di sebuah tempat rekreasi yang berupa taman bunga, sebuah bola plastik menggelinding pelan sampai akhirnya berhenti saat menyentuh kakiku. Seorang bocah terlihat tengah berlari menghampiri bola itu. Sesaat berhenti menatapku setelah bola itu berada dalam genggaman tangannya. Aku tersenyum..

“Lihat sayang.. Kakak sedang main bola tuh..” ucapku kepada Keke, anakku, yang berada dalam pangkuan. Keke menatap bocah itu malu-malu. Aku segera menurunkannya dari pangkuan, menghadapkan dirinya dengan bocah itu.

“Halo Kakak, namaku Keke. Kakak ganteng namanya siapa?,” ucapku mencoba memperkenalkan Keke dengan bocah itu. Mereka saling menatap ragu dan malu-malu.

Tiba-tiba.. Seorang perempuan yang aku pikir dia adalah Ibu dari bocah itu menghampirinya dan berdiri di belakang bocah itu sambil menatap diriku lekat-lekat. Awalnya tidak begitu menyadari akan sosok perempuan itu. Sampai saat aku berdiri dan melihat jelas sosok perempuan itu.

“Keysha?!”

“Mas Haris?!”

Lama kami berdiri dalam rasa tidak percaya mendapati siapa sosok yang kini ada di hadapan satu sama lain. Setelah bertahun-tahun saling menghilang tanpa jejak. Hari ini, kami dipertemukan kembali.

“I-itu anakmu?” tanyaku sambil memandang bocah itu.

Keysha menganggukan kepala,” Iya, namanya Rama.” Lalu tersenyum sambil menatap Keke,” Dan itu  anakmu?.”

Kini aku gantian yang menganggukan kepala sambil tersenyum. Lalu bertanya lagi kepadanya, “Papanya?”

Keysha menolehkan kepada seorang lelaki tampan yang saat tengah berjalan mendekati mereka.

“Mamanya?” Keysha balik bertanya.

Seorang perempuan yang tengah duduk tidak jauh dari tempat kami berdiri, segera bangkit menghampiri kami ketika pandangan mataku seolah mengisyaratkan kepadanya untuk mendekat.

“Ini Mamanya Keke..” ucapku memperkenalkan Istriku kepada Keysa kemudian.

Akhirnya sore itu, kami berkumpul bersama membawa keluarga baru kami masing-masing. Tidak ada yang menjadi beban bagi kebersamaan dua buah keluarga kami, meskipun aku dan Keysha pernah hidup bersama sebelumnya. Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan kepada kami setelah menukar kehidupan kami dan juga kisah cinta kami. Sebuah keluarga yang baru, lengkap dengan kehadiran buah hati kami masing-masing, Keke dan Rama. Dan mungkin, aku dan Keysha akan membina kembali kehidupan kami seperti yang dulu bersama mereka. Mungkin….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s