Menculik Matahari

Posted: Agustus 13, 2011 in Cerpen

Pagi kemarin aku telah berhasil merubah warna langit menjadi hitam sama sekali. Teduh. Tidak ada terik matahari yang biasa membakar kulit ini, membuatku merasakan lemas seharian dengan keringat dan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Hal itu terjadi, ketika aku memutuskan untuk bangun pagi-pagi sekali tepat pada saat adzan subuh mulai terdengar. Dengan tergesa-gesa aku lari untuk bisa sampai di puncak gunung. Dan pada saat matahari baru saja akan menampakan diri, sebelah matanya aku colok dengan jariku sampai ia mengaduh kesakitan. Lalu jatuh merebah sambil berguling-guling menahan perih. Dengan segera aku ikat tubuhnya dengan menggunakan rantai dan menggemboknya. Hahaha.. betapa senangnya hatiku saat itu.

Tidak ada satu orangpun yang tahu dimana matahari itu aku sembunyikan. Dan tidak juga akan ku katakan kepadamu sekarang. Tidak tidak… ini akan menjadi rahasia diriku semata. Resikonya terlalu besar! Jika sampai banyak orang yang tahu akan perbuatanku ini. Nyawa jadi taruhannya! Karena semua orang pasti tidak suka dengan apa yang aku lakukan pada matahari itu. Dan sudah pasti juga, mereka akan menggelandang pelaku yang telah berani-berani menghilangkan matahari dari peredarannya.

Sebenarnya aku tidak terlalu membenci matahari itu. Semua ini aku lakukan hanya karena pekerjaanku semata, sebagai tukang yang biasa bekerja memperbaiki jalan-jalan yang rusak atau ikut membantu membuat galian kabel. Pekerjaan yang lebih sering dikerjakan pada waktu-waktu matahari sedang terik-teriknya, seperti pada saat bulan Ramadhan ini. Entahlah, sudah bertahun-tahun aku sama sekali tidak bisa sepenuh berpuasa seperti kebanyakan orang. Sebab rasa haus selalu aku rasakan. Tubuh yang selalu berkeringat dan menjadi hitam legam. Semua gara-gara matahari yang selalu saja tidak mau berlaku ramah kepadaku selama ini.

Lihatlah! Bagaimana sinarnya menciptakan bayangan hantu yang menari-nari dijalan-jalan beraspal yang sedang aku perbaiki. Lalu bagaimana dengan tubuhku yang hanya berlapis kulit ini?! Hangus dan Gosong!

Aku rindu.. sungguh-sungguh merasakan kerinduan yang amat sangat untuk bisa merasakan kemenangan lagi seperti dulu, saat gema takbir bergema diseluruh penjuru negeri. Sebagai manusia yang menang menjalani ujian Tuhan di bulan yang penuh rahmat dan barokah ini. Bulan yang penuh pengampunan, dimana semua doa akan dikabulkan. Tapi…

Ah, semua ini memang salahku juga. Yang selama ini begitu bodoh dan malas untuk bisa bersemangat dalam menimba ilmu di sekolah dulu. Mungkin, mungkin jika aku mau gigih mengalahkan keadaan keluargaku yang miskin dan tidak begitu saja pasrah menerima. Aku tidak akan menjadi manusia bodoh yang hanya mengecap pendidikan sampai sekolah dasar. Itupun tidak lulus! Jadi wajar, jika pada akhirnya pekerjaan sebagai tukang, seperti yang kulakukan saat ini, menjadi satu-satunya pekerjaan yang mau menerima manusia tanpa ijasah seperti aku. Ah, bodohnya…

Ketika datang ke tempat dimana matahari kusembunyikan. Aku melihatnya tengah tertunduk lesu dengan wajah sedih. Sejenak menoleh kearah diriku yang mendekatinya.

“Mengapa kau lakukan ini kepadaku?” tanyanya kepadaku kemudian.

Aku hanya tersenyum kepadanya,”Maafkan aku…”

Tatap matanya seolah menusuk tepat ke jantungku, membuat rasa bersalah yang sejak awal kumiliki semakin menjadi.

“Lepaskan aku. Aku mohon….”

“Maafkan aku. Sungguh aku tidak bisa…”

Rona kecewa begitu terlihat setiap kali aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk kembali bebas. Wajahnya kembali tertunduk dan.. Hei! Aku melihat airmatanya jatuh satu-satu membasahi tanah. Ah, kenapa dia seperti ini? Bukankah matahari itu selalu terlihat sangar dan penuh kemarahan? Terik yang selama ini ia berikan kepada manusia menunjukan hal itu selama ini. Tapi sekarang?

“Sudahlah.. tidak perlu kau menangis seperti itu. Aku sungguh-sungguh terpaksa melakukan hal ini..” ucapku kemudian, sedikit menyembunyikan perasaan bersalahku padanya.

“Katakan kepadaku akan alasan dirimu melakukan semua ini, mungkin aku bisa menerimanya..”

Aku diam.. haruskah aku katakan kepadanya tentang semua alasan diriku melakukan semua in? Aku adalah hamba Tuhan yang tidak pernah menjalani semua perintah-Nya, bahkan untuk berpuasa di Bulan ini. Bagaimana mungkin Tuhan akan mengabulkan semua permintaanku jika demikian adanya diriku? Anakku harus bisa sekolah setinggi-tingginya, agar kelak tidak bernasib sama seperti aku. Lalu menjadi hamba Tuhan yang selalu bisa menjalani perintah-Nya. Dan Tuhan pun akan mengambulkan semua permintaannya. Keluargaku butuh makan, butuh untuk mendapat kehidupan yang layak. Agar tidak selalu mengeluh dan menyalahkan diriku dan juga Tuhan atas kehidupan sulit yang mereka jalani.

Aku butuh berpuasa! Aku butuh Tuhan untuk mengabulkan semua keinginanku itu! Bagaimana bisa doa-doaku terkabulkan? Jika aku selalu saja tidak berpuasa hanya karena pekerjaanku setiap hari. Yang selalu bergelut dengan panas, rasa haus, gerah dan marah. Semua yang di sebabkan karena matahari tidak mau sedikit saja mengerti akan keadaanku ini.

“Jadi, kau menyalahkan aku atas ketidak mampuanmu melewati ujian Tuhan dengan puasa dibulan Ramadhan ini?” tanya matahari kemudian, setelah pada akhirnya kuceritakan semua alasanku.

Aku menganggukan kepala,”Iya..”

Matahari tertawa mendengar jawabanku. Sialan! Aku merasa diperolok olehnya saat ini. Sungguh aku tidak bisa menerimanya.

“Kenapa kamu tertawa? Merasa lucu? Atau menganggap aku bodoh?!”

“Iya, kau memang manusia bodoh!” jawab matahari dalam sisa tawanya. Lalu tambahnya lagi,”Kau menyalahkan diriku atas ketidak mampuanmu mengalahkan dirimu sendiri?!”

Kembali Matahari tertawa. Senang sekali dia bisa melakukan hal itu disaat-saat seperti ini. Sialan!

“Lalu? Aku harus menyalahkan diriku sendiri, begitu?!”

“Ya, tidak juga… Tapi terdengar aneh, jika kamu menyalahkan aku atas semua itu”

Aku diam. Sebenarnya sulit untuk bisa memahami ucapan Matahari. Wajarlah, aku ini nyata-nyata tidak pernah bersekolah hingga tamat. Pastilah bodoh dan pasti juga sulit untuk mengerti ucapan Matahari..

“Aku memang orang bodoh. Sekolahpun aku tidak pernah tamat. Kau tahu itu?!”

Sejenak matahari tertegun mendengar penuturanku. Menatapku tidak percaya. Dan tawanya seketika berhenti.

“Kalau kau bodoh. Mana mungkin kau bisa merencanakan penculikan ini,” ucap matahari kemudian.

Aku diam tertunduk. Rasa sesal kini semakin mengarah kepada diriku sendiri. Sungguh aku tidak ingin melakukan perbuatan sekejam ini kepada matahari. Aku hanya ingin doaku dikabulkan Tuhan! Aku hanya ingin bisa berpuasa tahun ini! Apa salah?!

“Lepaskan aku…”pinta matahari.

“Tidak!”

“Lepaskan.. maka akan aku katakan sesuatu yang hebat tentang dirimu”

Aku sedikit terkejut mendengar ucapan matahari. Apa benar ada sesuatu yang hebat dari diriku?

“Tidak. Kau hanya ingin membodohi diriku!”

Matahari tersenyum, “kau masih percaya bahwa dirimu itu adalah orang bodoh?!”

Sialan! Matahari sepertinya telah menjebakku dengan semua kata-kata yang ia ucapkan. Tapi aku tidak ingin lekas percaya begitu saja.

“Apa jaminannya?!”

Matahari tersenyum lagi.

“JIka kau tidak merasa bangga dengan apa yang aku katakan. Kau boleh mengikat diriku kembali..” ucap matahari dengan bersungguh-sungguh.

Pada akhirnya, akupun sedikit percaya akan ucapannya dan melepaskan juga ikatan rantai yang membelit tubuhnya. Mataharipun terlihat senang karena telah terbebas dari belenggu yang membelit tubuhnya sedari kemarin. Lalu berdiri di hadapanku dengan melepas tatapan yang membuat diriku terkesima.

“Kau tau… Kau adalah manusia yang baik. Kau hebat! Aku mengagumi semua keinginanmu untuk bisa berpuasa, meski mengharapkan agar doamu itu dikabulkan oleh Tuhan. Sedangkan banyak dari manusia yang jauh lebih mudah kehidupannya darimu, sama sekali tidak berkeinginan untuk melaksanakan puasa ini dengan sungguh-sungguh. Padahal, tidak ada halangan bagi mereka sebagaimana yang kau alami selama ini. Selain mereka kalah oleh diri mereka sendiri, oleh nafsu dan keinginan mereka yang selalu ingin bersenang-senang,” ucap matahari panjang lebar padaku.

Aku terhenyak. Seolah tersadarkan akan diriku sendiri. Semua karena ucapan matahari!

“Sudahlah.. jangan kau terus menerus hanya memiliki keinginan dan keinginan semata, tanpa mau berusaha untuk bisa mencapai keinginan itu dengan bertindak dengan sunggu-sungguh.. Percayalah, Tuhan Sangat Mengetahui bagaimana hamba-hamba Nya. Tuhan tidak pernah pilih kasih dalam mengabulkan doa-doa kalian. Jangan pula kau salahkan aku, karena aku hanya melakukan tugas yang telah diberikan Tuhan kepadaku, sebagai ujian kepada kalian, manusia-manusia ciptaan-Nya.”

Lama aku berdiam diri dalam termenung. Kini aku bisa memahami apa yang dikatakan matahari kepadaku. Mungkin selama ini aku terlalu memandang rendah diriku sendiri. Mungkin selama ini aku sama sekali tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dalam berpuasa. Mungkin aku terlalu berprasangka buruk akan Tuhan. Mungkin…

Setelah kejadian itu, masih tidak ada yang mengetahui sebab hilangnya matahari selama ini. Ini tetap menjadi rahasiaku dengan matahari. Aku bersyukur telah mengenalnya dengan baik, meski dengan cara yang sedikit aneh.  Tapi, setidaknya saat ini, antara diriku dan matahari, setiap saat selalu saling menebar senyuman. Tidak ada yang tahu persahabatan yang tiba-tiba saja ada di antara kami. Ini menjadi rahasia kami. Hanya aku dan matahari yang tahu.

Iklan
Komentar
  1. mbaheariel berkata:

    lama nggak berkunjung,,,jadi kangen sama karakter-karakter ciptaan om admin geblexs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s