4 Tuhan + 1

Posted: Juli 12, 2011 in Cerpen

Setelah imam meletakan sarung, sajadah dan peci selepas pulang dari mesjid menunaikan sholat magrib berjamaah, imam menghampiri bapaknya.

“Pak, kenap kita sholat di mesjid  dan bukan di gereja, kuil atau Pura? Seperti Kristian, Wayan dan Acong?,” tanya Imam pada Bapaknya.

“Lho, tumben nanya seperti itu?” Bapak balik bertanya.

“Pengen tau aja..”

“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda,Nak” Bapak mencoba menjelaskan. Udin hanya diam mendengar penjelasan bapaknya. Meski masih ada yang mengganggu pikirannya.

Sepulang dari gereja, Kristian menghampiri papanya

“Pah, kok kita beribadahnya ke Gereja, sich? Kenapa gak ke Mesjid, kuil atau pura atau klenteng seperti Imam, Acong dan Wayan?,” tanya Kristian pada papa.

“Heeh, tumben anak papa nanyanya begitu,”ucap Papa sedikit heran.

“Pengen tau aja…”

“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda, Nak,” ucap papa menjelaskan. Kristian hanya diam mendengar penjelasan papanya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.

….

Acong bertanya pada papinya setelah mereka selesai sembayang,”Pih, kenapa  kita sembahyangnya gak di mesjid atau gereja seperti Wayan, Kristian dan Imam sih?”

“Hmm, ada apa nih? Tumben anak papih nanyanya kaya begitu”

“Pengen Tau aja..”

“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda,nak,” ucap Papi menjelaskan. Acong hanya diam mendengar penjelasan Papinya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.

….

Setelah ke tiga sahabatnya bertanya kepada orang tua masing-masing. kini giliran Wayan bertanya kepada ayahnya.

“Yah, kenapa kita sembahyangnya gak ke Mesjid atau Klenteng atau Gereja seperti Kristian, Imam dan Acong sih, yah?”

“Hmm, hari ini sepertinya ada yang beda sama anak ayah nih?”

“Pengen tau aja, Yah.. Boleh dong!”

“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda, Nak” ucap ayah menjelaskan. Wayan hanya diam mendengar penjelasan ayahnya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.

…..

Sore itu, mereka berempat; Acong, Imam, Kristian dan Wayan, berkumpul di tanah lapang, di bawah pohon rindang.

“Jadi menurut kalian gimana?,” tanya Imam kepada ke tiga temannya.

“Iye, gua bingung sebenarnya. Jawaban orang tua kita sama semua. Katanya Tuhan kita berbeda. Aneh..,” ucap Acong sambil menggelengkan kepala.

“Heh! kayaknya kita mesti menggugat sama orang tua kita atau pak guru. Atau kirim surat ke pak President aja!” ucap Wayan bersemangat.

“Ngapain?”tanya Imam penasaran.

“Ya, kita jelasin aja apa yang buat kita bingung,” ucap Kristian menyerobot Wayan yang baru akan menjelaskan. Akhirnya Wayan hanya menganggukan kepala membenarkan.

“Hmm….”

Mereka semua berfikir.

“Oke deh! Kita menggugat Pancasila aja ke Pak President!”ucap Imam bersemangat.

“Trus kita bilang apa sama pak President?” tanya Acong.

“Lo gimane sich, Cong? Kita bilang aja apa adanya. Bahwa Sila Pertama Pancasila itu gak cocok, Sila Ketuhanan yang maha ESA. Sedangkan Tuhan, seperti yang katakan orang tua kita aja berbeda-beda. Jadi Tuhan itu ada Empat, Tuhannya Imam, Tuhannya Kristian, Tuhannya loe, Cong dan Tuhannya gua” Wayan menjelaskan.

“Eh, iya ya.. Tuhan itu ada Empat,” ucap Acong kemudian sambil manggut-manggut.

“Akh, payah lo, Cong!” ucap Imam Sewot.

“Tapi apa hubungannya dengan Pancasila?” tanya Acong lagi telat mikir.

“Bener-bener lo, Cong. ESA kan artinye Satu. Sedang kita punya Tuhan Berbeda-beda yang jumlahnya ada empat. Jadi Sila pertama Bukan ‘Ketuhanan Yang Maha ESA’ tapi jadi ‘Ketuhanan yang Maha…” Kristian berhenti sejenak dalam kebingungan, “Eh, kalo empat jadi apa sich?!”

“Gak tau! Udah gak usah dibahas lagi!” jawab Imam kemudian.

Tiba-tiba di depan mereka ada seorang lelaki Gila yang mereka kenal, Bang Husen. Yang stress karena di PHK dan ditinggal tunangannya. Tengah kambuh penyakitnya, sedang berteriak-teriak kepada semua orang.

“Wahai Manusia!! Bertobatlah.. Sembahlah aku!. tuhan kalian!!..Huahahaha…!!”teriak bang Husen yang gila itu.

Lalu ke-empat bocah itu saling pandang, “Tuhannya nambah satu!!..” ucap mereka spontan serempak sambil tertawa cekikikan.

……

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan
Komentar
  1. Mbaheariel berkata:

    Permisi OM,,,,
    saya mau ijin CoPas ni postingan buat blog saya,,,
    lagi krisis ie nih om,,,,hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s