Malam Perhitungan

Posted: Juli 9, 2011 in Cerpen

Sorot mata itu berubah garang, seolah menemukan jawaban atas apa yang selama ini dicari. Seorang lelaki berkulit hitam, tubuhnya kerempeng dengan kacamata agak tebal dan rambut  tidak tersisir rapih. Di sebuah tanah yang agak lapang namun bertembok, dalam suasana malam yang dingin. Dia berdiri menunggu seseorang..

Malam ini, adalah malam perhitungan yang akan dilakukan Bejo terhadap teman satu kerjanya, Eflan. Seseorang yang selama ini, selama beberapa tahun tak pernah berhenti menjadikan dirinya bahan olok-olok yang tak sehat. Bahkan cenderung menindas dirinya. Memperlakukan dirinya seolah seorang pembantu, pelampiasan kekesalan yang tak segan memukul, melempar benda keras bahkan mencaci dirinya dengan  kata-kata kasar. Dan malam ini adalah waktunya..

Tekad itu tiba-tiba datang menyeruak ke dalam diri bejo, menghancurkan dirinya yang selama ini diam. Semua karena, Salvina, perempuan cantik yang setiap saat selalu membela dirinya. Dikala dirinya tengah menerima perlakuan kasar dari Elfan yang didukung hampir seluruh teman kantornya. Hanya Silvina yang dengan wajah sendu membantu dirinya. Dan dengan kemarahan yang berapi-api, akan berusaha menghentikan aksi mereka. Ya, Silvina gadis cantik yang pada akhirnya, telah berhasil merebut hati bejo. Dan kepadanya, Bejo setiap malam selalu jatuh pada hayalan indah, berdua dengan Silvina.

Tapi mungkin nasib belum berpihak kepadanya, Silvina yang selama ini baik kepadanya. Yang setiap saat begitu gigih membela dirinya, dan semua itu Silvina lakukan semata karena rasa iba dan kasihaan kepadanya.

“Mas Bejo itu laki-laki. Jangan diam  aja kalau mereka begitu. Lawan dong, mas!” itu yang dikatakan Silvina terakhir kali. Sebelum dia mengucapkan kata maaf. “Maaf, Mas Bejo . Mas Bejo salah sangka… Selama ini saya cuma kasihan melihat mas Bejo jadi bahan bulan-bulan semua orang. Dan mas Bejo tidak melawan. Saya tidak tega melihatnya, Mas. Tapi perasaan saya tidak lebih dari itu”

Semua peristiwa yang terjadi saat ini, berawal dari akhir pertemuan itu. Ada luka yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya, membuat Bejo menyadari semua ketololan yang dimiliki dirinya. Kesadaran itu telah merubah semua pandangan dirinya tentang kehidupan, tentang dirinya dan tentang Tuhan sekalipun. Awal perwujudan dari kesadaran di ungkapkan dengan memberi secarik kertas di meja Elfan sore tadi.

GUA TUNGGU MALAM INI. DI BELAKANG KANTOR, KALO  ELO MEMANG SEORANG LAKI-LAKI- –

 from: Bejo

Semoga semua akan terwujud malam ini, biar ini menjadi sebuah awal pencitraan baru tentang dirinya.

….

Setelah hampir satu jam menunggu, terdengar langkah sepatu dari kejauhan. Bejo bangkit dari posisi berjongkok, mencari-cari sosok  dari asal suara itu. Dan dari kegelapan itu, muncul sosok yang telah ditunggu-tunggu,Elfan!

Mereka berdiri berhadap-hadapan. Sorot mata keduanya terlihat menyimpan kemarahan yang hampir sama.

“Udah hebat lo sekarang?! Sampe berani nantangin gua?!” bentak Elfan memecah keheningan yang ada diantara mereka berdua. Bejo hanya tersenyum sinis mendengar gertakan Elfan. Hal itu membuat Elfan sedikit terkejut, namun sekaligus merasa direndahkan oleh Bejo

“Kurang ajar, lo! Udah mulai songong sama gua sekarang yah?!” ucap Elfan makin emosi, matanya makin melotot keluar. Namun kembali hal itu tidak membuat Bejo sedikitpun merasa gentar. Dan sebaliknya, hal itu membuat Elfan semakin terkejut, karena tidak seperti biasanya seorang Bejo berani seperti sekarang ini. Biasanya Bejo  akan langsung tertunduk, dan gemetar tubuhnya saat Elfan membentak dirinya. Tapi saat ini…??

“Lo pikirr.. gua akan selamanya takut sama manusia sialan kaya lo, hah?! Meskipun malam ini gua harus mati. Paling tidak, hantu gentayangan gua punya alasan untuk membalas  dendam sama elo!!” ucap Bejo lebih keras membentak dengan sorot mata seperti orang yang kesurupan. Lalu Bejo tertawa keras sekali… Ha..ha..ha…ha…!!

Hati Elfan mulai sedikit ciut, melihat perubahan pada diri Bejo saat ini. Bejo sekarang jauh berbeda dengan Bejo yang selama ini menjadi bulan-bulanan hinaan, ejekan dan cemooh. Tidak pernah sekalipun Bejo berani untuk memprotes atau melawan.

“Loe mau ape sekarang, Jo?! Udah sakti lo sekarang ?!” bentak Elfan lagi.

Seketika tawa Bejo berhenti mendengar ucapan Elfan. Ditatapnya tajam sosok Elfan yang  berdiri di hadapannya. Dengan sorot mata yang lebih mengerikan.  Bejo berkata,”Gua pengen lu mati malam ini!!”

Elfan terkejut mendengar apa yang baru saja Bejo katakan. Keterkejutan itu begitu terlihat di wajah Elfan. Sejenak Elfan berusaha untuk menguasai diri. Dia coba menyembunyikan rasa takut yang mulai menyusup sedikit ke dalam dadanya.

“Bener-bener udah gila, lo! Lo pikir gua bakalan takut dengan ancaman kaya gitu!!”

Tanpa banyak bicara, satu pukulan tiba-tiba Elfan lepaskan tepat mengarah ke wajah Bejo. Dan Bejo yang belum siap menerima serangan itu, langsung tersungkur ke samping beberapa langkah. Ditahannya tubuh kerempeng itu agar tak terjatuh. Bejo memalingkan muka menoleh kearah Elfan yang sudah siap untuk melepas satu tendangan yang mengarah perutnya.

“Hiaaaaa….!! Buk!!” Telak sekali tendangan itu menghantam perut Bejo. Tubuh Bejo berguling-guling sampai tersudut di tembok. Dengan langkah bergegas, Elfan tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Bejo untuk bangkit. Diangkatnya tubuh kerempeng itu dengan mudah, dengan menggenggam kerah baju Bejo.  Dihadapkan wajahnya ke wajah Bejo.

“Heh, gua pikir lo udah punya kesaktian lebih untuk menghadapi diri gua. Ternyata cuma segini doang kemampuan lo?!” ucap Elfan penuh dengan rasa kemenangan dan berkuasa atas diri Bejo. Ketakutan yang sempat singgah di awal tadi, seketika sirna. Saat mendapati, Bejo tetaplah Bejo yang selama ini selalu jadi bahan olok-olo dan hinaan dirinya.

“Cuih!!..”

Wajah Bejo menerima semburan ludah dari mulut Elfan. Lalu dihempaskannya tubuh Bejo ke tembok. Dan saat punggung Bejo baru sesaat menyentuh tembok itu, satu pukulan keras menghantam telak perut Bejo.

“HEGH!!…

Seketika rasa sesak dirasakan Bejo dan diapun terbatuk-batuk. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

Sementara Elfan dengan kesombongan yang menguasai dirinya, menatap Bejo dengan pandangan penuh keangkuhan. “Mampus lo sekarang!!” Lalu membalikan tubuhnya untuk meninggalkan Bejo yang sudah tak berdaya.

Sementara Bejo, saat ia mencoba menghapus sedikit liur yang menempel di tepi bibirnya. Darah!.. Ada sedikit darah yang keluar di tepi bibirnya. Ketika melihat darah itu. Sorot matanya yang sempat redup tak berdaya. Kini tiba-tiba menjadi lebih  mengerikan dari sebelumnya. Ditengoknya sosok Elfan yang hanya terlihat  punggungnya saja. Yang berjalan semakin menjauh dari dirinya. Lalu dengan susah payah, Bejo mencoba bangkit berdiri.

“Woi, monyet!! Gua masih disini. Belom mati!!” teriak bejo dalam tubuh yang sempoyongan. Elfan seketika menghentikan langkahnya. Dia sedikit terkejut mendengar teriakan itu. Lalu menoleh sesaat ke belakang. Degh! Jantung serasa copot. Elfan tak percaya melihat Bejo masih berdiri setelah dia hajar habis-habisan.

“Huahahaha….!! Gua belom mati! Gua masih belum mati, Monyet! Kenape lo kabur ketakutan begitu?!!”

Meski dalam tubuh sempoyongan, Bejo berjalan mendekati Elfan sambil berteriak-teriak memecah keheningan malam. “Guaa..Belomm..MA-TI!!”

Elfan terbelalak melihat sosok Bejo yang penuh darah, berjalan sempoyongan menghampiri dirinya. Perasaannya campur aduk antara terkesima, takjub sekaligus takut.  Meski berjalan dalam keadaan sempoyongan seperti itu. Bejo bisa sampai juga di hadapan Elfan.

“Heh, lo mau kemane?” tanya Bejo sambil kedua tangannya disandarkan di bahu Elfan. Darah sesekali keluar dari mulut Bejo. “Gua belum kalah, Nyet! Gua belum mati! Urusan kita belum selesai!!”

Didorongnya keras tubuh Bejo oleh Elfan sehingga mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh. Tapi Bejo malah maju lagi menghampiri Elfan. Tapi untuk kali ini, ketika Bejo hampir mendekat. Dan posisi tubuh Bejo dianggap masuk dalam jangkauan pukulan. Elfan melepas satu pukulan keras ke wajah Bejo. Namun hal itu hanya membuat Bejo mundur beberapa langkah ke belakang untuk kemudian maju lagi. Dilepaskan lagi pukulan itu, dan tubuh Bejo mundur lagi beberapa langkah ke belakang, lalu maju lagi. Pukul lagi, mundur lagi, maju lagi.. Hal itu berlangsung sampai saat Elfan melepas tendangan lurus tepat mengarah perut Bejo.

“Hiaaat..!!. BEGH!!..” Bejopun kembali terjatuh  bersimpuh sambil terbatuk-batuk.

Uhuk!..Uhuk!..Uhuk!…. Darah keluar lagi seiring batuk itu. Elfan terlihat puas, nafasnya mulai tersengal, Ngos-ngosan..

Tapi semua belum selesai bagi Bejo, dia bangkit lagi. Meski dengan susah payah, dia berdiri dengan sempoyongan.

 “AAAAAA…….!!” teriak Bejo sambil tangannya mengepal di atas bahu, siap untuk menghajar Elfan. Elfan terkejut melihat aksi Bejo, dalam nafas yang semakin cepat, dia mencoba berdiri dalam posisi siaga menerima pukulan Bejo.

“AAAAA………!! “

Tiba-tiba…

“Paaah..! Udah, dong. Main komputernya. Kok, istrinya dicuekin terus?!” seru istriku mengejutkan aku.  Dan dengan suksesnya istriku juga berhasil membuyarkan semua imajinasi diriku dalam menulis.  Padahal Cerita Bejo hampir mencapai akhir ceritanya.

“Pah…!!” kini teguran lembut itu berubah lebih keras. Karena aku tak menjawab ucapannya.

“I-iya, Mah. Ini lagi matiin Komputernya, kok!” jawabku sekenanya.

Tombol Shutdown Komputer ku tekan. Dan..

 “PET!!… Komputer itu pun mati.

……

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s