Gerimis Pada Hujan

Posted: Juli 9, 2011 in Cerpen, Muntahan, Puisi

Seperti hujan gerimis, aku merasakan ketidak sungguhanku pada hujan. Setelah deras airmata kutumpahkan di lautan hidup. Entah, sudah berapa lama terik matahari menghanguskan kulit tubuh ini yang telah kusam ditelan waktu. Sepertinya tetes-tetes air mampu memberi sedikit rasa kesejukan jiwa yang gersang.

Hati nurani terkoyak dengan apa yang telah aku tangkap oleh indera ku yang buta lagi tuli. Namun aku tak berdaya sebagaimana ketidak berdayaan bumi yang ditelan hujan badai. Terbang bersama angin mengikuti arah bumi yang lamban berputar. Aku terkapar dan mati dalam kesendirian. Dimana jiwa-jiwa?!

Seperti helaan nafas panjang melepas sesak di dada ini. Aku terbuang dalam kehidupan yang seharusnya indah. Mengapa harus melepas airmata? Bukankah tawa lebih mampu menyingkirkan setiap perih meski hanya sesaat. Lalu mengapa juga merasa sepi? Sedangkan gemerlap kehidupan mampu mengundang gelak tawa meski sementara.

Aku diam meradang pada perih yang tak juga mau pergi. Aku malas untuk bergerak mencari kesejatian diri. Inilah hidup dan inilah aku! Yang selalu kalah oleh diriku sendiri. Tidak lagi mampu melangkahkan kaki dengan senyuman kegembiraan menyambut matahari. Seolah telah usai dongeng malam dari ibunda tercinta.

Inlah kenyataan dari hujan dan matahari. Aku berada di cakrawala langit nan luas ini, menghadapkan jiwa pada kebenaran yang samar. Lalu jatuh tersungkur menahan geram. Tengoklah.., seongggok batu permata telah menimpa batok kepalaku sedemikian keras, tanpa aku sadari dan ketahui siapa yang berbuat. Mana mungkin Langit sudi menganugerahiku perhiasaan yang sedemikian mewah untukku. Sedangkan Langit mengetahui bahwa kerinduanku adalah pada kematian, bukan pada kehidupan.

Jangan merasa benar atas apa-apa yang mungkin bisa menjadi salah, Kawan? Aku lelaki dengan syahwat kusendiri. Yang senantiasa menyeringai setiap menangkap belahan dada wanita diumbar dengan murah meriah. Kamu juga lelaki dengan setanmu sendiri, yang senantiasa tertawa keras atas nikmat yang kau dapat secara cuma-cuma.

Demikianlah akhirnya aku dan juga jiwa-jiwa yang merasa merdeka, telah berhenti ketika hujan gerimis berhenti. Lalu beranjak pergi pada kehidupan untuk kemudian berkumpul bersama dalam liang lahat….

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan
Komentar
  1. boilfrengky berkata:

    ciehhh…..nyama-nyamain aje lo mban tampilanya 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s