Gendut? EGP!

Posted: Juli 3, 2011 in Cerpen

Seberapa sering kau dengar pujian itu terlontarkan untuk seseorang yang bertubuh besar alias gendut alias gembrot?. “Ah, cantik sekali si gendut. Luar biasa cantiknya!”

Jarang! Bahkan tidak pernah sama sekali aku mendengar kata-kata itu terucap untuk mereka yang bertubuh besar sebagaimana aku. Yang ada hanya pandangan aneh, yang disusul dengan tawa cekikikan geli penuh hinaan. Atau dengan sebuah gelengan kepala, seolah takjub dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, meskipun itu nyata. Atau sebuah sindiran dari para penumpang bis kota, angkot dan tukang becak.

“Wah, kok bisnya jadi miring jalannya?.”

“Masa Allah! Mejret dah gua?!”

“Ancur dah becak gw! Rugi deh, Bandar!”

So???…  EMANG GUA PIKIRIN!!!!!

Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk tetap bertahan dalam kehidupan seperti ini. Untuk tetap bertahan dalam suasana hati yang tenang lagi lapang.  Tanpa harus merasa rendah diri, apalagi  sampai sakit hati. Cape, bo!

Jangankan orang lain, mamaku sendiri saja selalu khawatir dengan keadaan diriku ini. Tapi masih aku anggap wajar, karena rasa cinta dan kasih sayanglah yang membuat Mama seperti itu. Berbeda dengan orang lain yang kadang sok perduli, tapi dibelakang malah selalu senang mencela diri ini.

“Aduuuh, kamu ini bagaimana sih? Kan sudah Mama bilang dari kemarin. Diet Eva. Dieet..!” celoteh Mama, setiap saat melihat aku mencoba memasukan makanan kedalam mulutku. Dan Mama melihatnya. Lalu dengan cepat tangan Mama menyambar makanan yang ada di tanganku sambil ngoceh gak jelas,”Susah banget kalau di bilangin sama orang tua! Siapa yang mau sama kamu? Kalau kelakuan kamu seperti ini terus!”

Aku hanya bisa cemberut kesal, tanpa sakit hati tentunya. Toh, semua hal itu Mama lakukan karena rasa cintanya kepadaku. Aku hanya melirik ke arah Papa, yang cengengesan melihat ulah kamu berdua. Betapa Papa begitu menikmati tingkah kami berdua. Tapi Papa itu berbeda dengan Mama. Karena Papa tak pernah ambil pusing dengan urusan tubuhku yang makin hari makin melar ini. Papa selalu santai menyikapi masalahku ini.

“Itu terserah kamu aja,Va. Papa selalu percaya bahwa Tuhan itu selalu adil kepada hamba-hambanya. Jadi Papa percaya, dalam tubuh subur kamu ini, ada sesuatu yang berbeda yang merupakan kelebihan kamu. Dibanding orang lain. Oke?!” Begitu selalu Papa menasehati diriku.

Dan ucapan Papa terbukti, kok. Karena meskipun tubuhku besar dan gendut seperti ini. Aku termasuk orang yang lincah dan memiliki kepercayaan diri yang bisa dibilang “Over dosis!” Hahaha.. gak tau juga kenapa bisa begitu. Mungkin inilah kelebihan yang telah Tuhan anugerahkan kepadaku, seperti yang selalu Papa katakan.

Tapi itu juga bukan berarti aku selalu percaya diri. Karena sebagaimana kebanyakan orang juga, aku ingin merasakan rasanya memiliki kekasih dan juga ingin merasakan dicintai seseorang yang menerima keadaan fisikku yang berbeda ini. Dan untuk urusan yang satu ini. Aku termasuk orang yang gagal, alias belum sukses alias jomblo sejati. Bahkan bisa masuk dalam daftar pemecah record dunia dalam urusan sakit hati. Hahaha…!!Hebat, khan?!

…………

Tapi ada seorang lelaki, teman sekerjaku yang bernama Eko Pramujio. Lelaki tampan, dengan tubuh yang atletis, berkumis tipis lagi simpatik. Kata teman-temanku, ia suka kepadaku. Kabarnya malah sampai jatuh cinta segala. Percaya gak sih…?

Yaa, gak mungkinlaaahh..! Ada cowok yang seperti itu, jatuh cinta sama mahluk gendut seperti diriku ini. Udah gila kali, yee?! Yang benar adalah, namanya memang Eko Pramujio, lelaki dengan  perawakan tinggi tapi langsing alias kurus kering seperti orang cacingan. Tidak berkumis, tidak juga berjenggot. Yang pasti pintar, tapi termasuk dalam golongan manusia kuper dan lumayan gaptek. Dia selalu memperhatikan diriku setiap kali aku lewat atau terlihat di depan matanya. Kami bukan musuh, karena kami masih suka bertegur sapa dan saling melempar senyum.

Tapi masalahnya, dia selalu terlihat gugup di depanku ataupun teman-temanku. Selalu kebingungan kalau disapa orang.

“Selamat siang, Mas Eko.. Rajin sekali datang kekantornya. Pagi-pagi begini udah ada dikantor,” sapaku suatu kali. Ketika kebetulan aku memang harus datang lebih awal ke kantor, karena ada yang terlupa untuk aku kerjakan kemarin.

Dan dia dengan gelagapan dan juga salah tingkah mencoba menjawab,”Eh, i-iya nih, Eva. Ngg….” Lalu kata-kata itu berhenti, tanpa aku tahu apa kelanjutannya. Karena di langsung ngacir pergi melarikan diri menuju kamar mandi. Mungkin mencari kata-kata yang sempat jatuh ke dalam toilet kamar mandi. Ampun Tuhaaaan…!

Btw, hal menakjubkan terjadi sekali seumur hidupku kemudian. Disuatu malam minggu, tiba-tiba aku kedatangan mahluk yang bernama cowok ke rumahku. Awalnya aku begitu kegirangan saat Mama mengatakan ada seorang cowok yang datang mencari aku. Bayanganku saat itu, tentang sosok lelaki yang datang ke rumah itu adalah Ryan! Manusia super ganteng yang ada di tempat kerjaku.

Tapi semua berubah menjadi mimpi buruk, ketika aku melihat dari balik tembok sosok cowok yang datang itu, yang tengah mengobrol dengan Papa. OMG!!.. Itu kan Mas Eko?! Mimpi apa aku semalem? Mimpi ketimpa durian satu truk juga enggak! Mimpi ketiban Bulan juga, enggak! Tapi mimpi jadi waria yang dikejar-kejat satpol PP lalu nyebur di sungai, Iya!

Lho? Apa hubunganya dengan kedatangan Mas Eko ke rumahku hari ini? Seketika rasa takut dan malas menghinggapi hati ini, tidak seperti biasanya. Apalagi jika aku ingat bagaimana sikap Mas Eko yang selalu terlihat kikuk dan gugup serta gagap. Ngapain dia kesini, Ngapel? Emang aku ini samanya dia? Ya, Tuhaaan..mudah-mudahan tidak seperti dugaanku.

“Heh! Kamu ngapain malah ngintip disini? Bukannya samperin tamunya.” tiba-tiba Mama mengejutkan diriku yang tengah mengintip ke ruang tamu dimana Mas Eko dan Papa berada.

“Mah, tolong bilangin ketamunya dooong, kalau Eva saat ini sedang sakit datang bulan. Please ya, Mah…pleaseeee…” ucapku memohon.

“Tidak baik kamu bersikap begitu. Cepat ganti pakaian dan langsung temui tamunya sana!” Mama tidak senang akan sikapku. Lalu Mama menghampiri Papa dan juga Mas Eko sambil membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman.

Sedangkan aku ngeloyor masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal sama Mama. Di dalam kamar aku merebahkan tubuh besarku sambil menatap langit-langit kamar. Ah, ada apa sebenarnya Mas Eko datang kesini? Apa bisa aku dan dia ngobrol? Sedangkan di kantor saja setiap kali bertemu, dia sama sekali tidak bisa ngomong dengan lancar. Apalagi sekarang?

Pikiranku melayang-layang, menerka-nerka maksud dan tujuan Mas Eko datang. Tapi tiba-tiba saja, pintu kamar dibuka dan kepala Papa melongok kedalam.

“Va, kok kamu malah tiduran dikamar sih? Kasihan tamu kamu sudah menunggu kamu dari tadi,” ucap Papa kemudian.

“Bilangin aja Eva lagi sakit datang bulan, Pa” jawabku sambil memohon.

Tiba-tiba sikap Papa langsung berubah mendengar ucapanku tadi.

“Papa tidak suka kamu bersikap seperti ini! Cepat ganti pakaian dan temui tamu kamu!,” ucap Papa marah. Tapi aku tidak terlalu menanggapi sikap Papa, meski tidak seperti biasanya Papa marah-marah begitu.

“Eva males ketemu mas Eko itu, Pa. Orangnya Kuper sekali dan juga gaptek, Pah,” jawabku memberi alasan. Namun hal itu malah membuat Papa semakin  marah kepadaku.

“Tidak tahu diri! Papa lebih suka anak Papa itu dihina dan diremehkan orang. Dibanding Papa punya anak yang tidak sopan seperti kamu sekarang!” ucap Papa dengan nada tinggi sambil mata melotot kepadaku.

Aku sungguh tidak menyangka bahwa Papa akan marah besar terhadapku, hanya karena seorang laki-laki bernama Eko Pramujiwo datang ke rumahku. Meskipun sedikit terkejut mendengar ucapan Papa. Tapi aku mulai mengerti keadaannya sekarang. Bahwa, apa yang aku lakukan, membuat diriku lebih mirip dengan orang-orang yang setiap saat menghina diri ini. Aku sama dengan mereka! OMG!! Tidaaaakkk..!!

“Maafin Eva ya, Pah,” ucapku kemudian sambil memeluk tubuh Papa.

“Ya sudah, cepat temui tamu kamu itu”

Akhirnya malam mingguku menjadi kelabu, Hiks! Ketika aku harus berhadap-hadapan dengan mahluk kuper dan super gugup ini. Oh Mas Eko, ada apa denganmu?? Tapi aku berusaha untuk bisa membuat dirinya senyaman mungkin. Meski aku bisa melihat, bahwa dirinya sama sekali tidak mampu beradu pandang setiap kali berbicara denganku.

Tapi lambat laun, aku bisa melihat dirinya lebih rileks dan tiba-tiba berubah menjadi mahluk yang bawel dan banyak bicara. Sampai-sampai aku tidak dikasihnya kesempatan bicara. Dan anehnya, sikap malu-malu dirinya kadang membuat aku tertawa sendiri. Ada yang menarik dari sikap malu-malunya itu. Dan kau tahu? Ternyata dia juga adalah seorang lelaki gombal!

“Nggg.., Va. Kamu tahu gak, kalau aku ini selalu iri melihat kamu?,” ucap Mas Eko sambil mencoba memberanikan diri menatap diriku. Aku menggeleng.

“Aku iri sama kamu, yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Tidak pernah merasa minder, meski kadang aku suka melihat banyak orang yang meremehkan keadaan fisik kamu.” Kali ini Mas Eko tertunduk sambil memainkan jari-jari tangannya.

“Yaa.., Mas Eko. Cuek aja, Mas. Ngapain mikirin omongan orang. Cape!” ucapku kemudian. Dan dia tersenyum mendengar ucapanku itu.

“Itu! Itu yang aku suka dari kamu, Va. Kamu orangnya cuek dan santai. Gak pernah pusing dengan omongan orang. Atau pikiran dan pandangan mata yang merendahkan. Beda sama aku, Va”

…………….

Akhirnya, percakapan itu mengalir begitu saja, tanpa ada perasaan kikuk sebagaimana awalnya. Aku sendiri tidak menyangka bahwa Mas Eko ternyata tidak sekuper dan segaptek yang aku kira. Dia memiliki pribadi yang menyenangkan. Seandainya dia kurang percaya diri, itu karena dia berasal dari desa, dengan keadaan keluarga yang sederhana ala kampung.

Dan sejak malam minggu itu, Mas Eko semakin rajin dan rutin datang kerumahku. Apel, Bo! Hahaha… dan akhirnya, pada saat Mas Eko mendapat kenaikan pangkat menjadi seorang Supervisor. Mas Eko melamarku, dan kamipun menikah. Duh, senangnya..

Mungkin jika Papa tidak marah kepadaku waktu itu, aku tidak akan menyadari bahwa diriku yang selama ini selalu diolok-olok dan diremehkan orang. Telah melakukan hal yang sama terhadap mas Eko. Thankyu Papa!! Love you!!..Mama juga!..Muaach!! Sebagai ucapan terima kasihku pada Papa dan Mama, aku kemudian memberi mereka seorang cucu! Hehehee.. Terimakasih, Tuhan.

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s