Seorang Pemuda Dan Malaikat Maut

Posted: Juli 1, 2011 in Cerpen

Malaikat maut telah berada di dalam kamar seorang pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya. Lelap sekali terlihat, sepertinya tengah dia merengkuh mimpi malamnya bersama para bidadari dari kahyangan. Air liur yang menetes di sisi bibirnya telah membasahi bantal.

“Wahai, Anak muda! Bangunlah!”seru sang Malaikat maut. Tapi seruan itu sama sekali tidak terdengar oleh pemuda kerempeng berambut keriting itu. Ia masih lelap memeluk gulingnya.

“Bangunlah, Anak muda!” seru Malaikat Maut sekali lagi. Dan kali ini Sang Malaikat Maut berhasil membuat Pemuda itu merubah posisi tidur, menjadi terlentang melepas pelukannya pada guling.

“BANGUUUUUNN….!!”

Dan akhirnya seruan terakhir yang keras itu telah membuat Pemuda itu melompat dari tidurnya dalam terkejut. Membuka matanya yang penuh dengan belek, sambil celingukan bingung. Ada apa ini?..Ada apa ini?… Pada saat pandangan matanya yang masih samar-samar menangkap keadaan sekitar. Ia seolah melihat satu sosok hitam di hadapannya. Dikucek-kucek matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya. Dan setelah itu…

Tubuhnya meloncat mundur, merapatkan tubuh pada tembok kamar dalam ketakutan.

“Si-siapa kamu?!”tanya pemuda itu kepada sosok yang berada dihadapannya.

“Aku Malaikat Maut yang akan mencabut nyawamu hari ini” jawab Sosok itu.

Mendengar hal itu, rasa takut dalam diri pemuda itu berangsur surut. Bahkan dengan santai, sambil menyeret tubuhnya dalam posisi duduk. Menuju ketepi ranjang, menurunkan kedua kakinya dilantai, lalu bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah santai melewati sosok Malaikat maut menuju meja dan meraih gelas kopi sisa semalam.

“Ada keperluan ape ente dateng?” tanya pemuda itu sambil mulutnya berada di bibir gelas itu.

“Aku akan mencabut nyawamu sekarang. Bersiaplah..” jawab Malaikat Maut.
“O-oh.. sekarang?”

Malaikat Maut menganggukan kepala. Masih dengan sikap santai Pemuda itu kembali melewati Sosok Malaikat Maut, dengan gelas kopi di genggam. Kembali duduk di tepi ranjang. lalu berkata,“ Tar aja deh, gua masih pengen hidup. Karena hidup gua masih berantakan”

“Tidak bisa!!”

Pemuda itu terkejut karena nada suara sang Malaikat Maut yang begitu tinggi, tapi bukan karena ketakutan mendengar ucapan Malaikat maut.

“Enak aja ente! Gua gak terima!’ kini Pemuda itu yang menaikan nada suaranya sambil berdiri berhadap-hadapan dengan sang Malaikat.

“Tidak ada yang bisa melawan takdir! Jika Tuhan sudah berkehendak, semua pasti terjadi. Tidak juga pada engkau! Tidak akan ada pengecualian!” Malaikat membalas ucapan sang Pemuda.

Pemuda itu menghampiri meja lagi, dan meletakan gelas dengan keras di atasnya.

“Gak bisa! Bilang sama Tuhan, gua gak minta dilahirin kedunia ini. Gua juga gak minta diberi tugas-tugas berat yang harus gua jalanin dikehidupan ini. Dan gua gak terima! Tuhan bersikap sewenang-wenang atas hidup gua!”

“Terkutuklah kau sebagai manusia! Neraka ada tempat yang pantas untukmu!!” Suara Malaikat Maut kembali meninggi.

Tapi pemuda itu malah tersenyum sinis kepada Malaikat Maut,”Huh! Enak aja. Ente jadi malaikat enak. Tinggal ngejalaninn perintah. Sedang gua harus berfikir keras dalam menjalani kehidupan ini. Berperang dengan diri gua sendiri. Merasakan pahit manis kehidupan ini. Jangan asal ngomong ente!”

Malaikat Maut terdiam. Baru kali ini ia berhadapan dengan manusia bebal lagi membangkang. Biasanya banyak orang yang ketakutan saat ia datang kepada mereka.

“Apa yang engkau inginkan?!”

Pemuda itu terkekeh, merasa menang dalam perdebatan ini.

“Baiklah, sampein sama Tuhan. Jika memang Tuhan Maha Berkehendak. Gua pengen kehidupan gua dirubah dari awal. Biar hidup gua gak ancur berantakan seperti sekarang ini.”

“Apa maksudmu, Anak muda?!”

Pemuda itu kembali tersenyum penuh kemenangan.

“Bilang sama Tuhan, hidup gua yang ancur berantakan ini karena Tuhan telah melahirkan gua ke dunia ini dalam kondisi hidup yang serba susah. Wajar kalau gua gak terima, jika saat ini gua harus mati sebelum gua meraih apa yang gua pengen. Kawin aja belom?!” ucap pemuda itu kemudian sedikit sewot.

“Apa yang harus aku sampaikan kepada Tuhan?!”

“Bilang, kalo dulu gua lahir dari rahim ibu yang kampungan dan bapak yang cuma kuli pasar. Gua pengen gua di lahirin lagi dari rahim Ibu gua yang seorang artis kondang, dan Bapak seorang pengusaha sukses lagi terkenal di negeri ini”

“Itu saja?”

“Masih banyak lagi. Gua pengen lahir sebagai manusia yang pintar, cerdas dan disukai semua orang. Dan sudah pasti akan mewarisi kekayaan Bapak gua itu. Menikahi seorang artis terkenal yang paling cantik di negeri ini. lalu mempunyai anak-anak yang juga cantik dan ganteng-ganteng.”

“Itu saja?”

“eh, masih ada lagi. Tolong rubah wajah gua yang ancur ini menjadi sosok pemuda yang ganteng dan penuh kharisma. Yang membuat orang suka dan mencintai diri gua”

“Ada lagi?”

“Masih ada. Gua juga pengen jadi orang yang punya banyak bakat, selain bisa menyanyi, melukis, menguasai teknologi, menguasai semua bahasa didunia ini, jago menulis dan merangkai puisi.”

“Itu saja?”

“Hmm….” Pemuda itu mulai berfikir keras. Mencari-cari segala hal yang di anggap gagal dalam kehidupannya sekarang ini, sebagai seorang pengangguran sejati, jomblo sejati dan sering dilecehkan oleh hampir semua orang, terutama perempuan.
“Gua pikir, segitu aja dulu” ucap pemuda itu kemudian.

“Baiklah..”

Pemuda itu tertawa senang, membayangkan semua keinginannya akan segera terkabul. Kehidupannya akan segera berubah. Jauh berbeda dari kondisi hidupnya yang sekarang.

“Bersiaplah..” ucap Malaikat itu tiba-tiba. Pemuda itu segera memejamkan mata karena dia pikir semua keinginannya itu terkabul.

“Sudah…” terdengar ucapan Malaikat itu.

Pemuda itu membuka matanya. Tapi… betap terkejutnya Pemuda itu saat melihat dirinya telah berpisah dengan jasadnya yang telah tergeletak dilantai.

“Apa-apaan, nih?!” seru pemuda itu marah.

“Sudahlah..ikut saja denganku”

“Gak bisa! Gua gak mau! Tadi lo bilang akan mewujudkan semua keinginan gua itu!” Pemuda itu menolak.

“Aku tidak pernah berkata demikian kepadamu. Aku hanya bertanya kepadamu, apa yang kau inginkan tanpa berjanji akan mewujudka semua itu kepadamu”

“Tapi gua minta ente untuk menyampaikan semua keinginan gua itu ke Tuhan!”

“Seperti kamu bilang tadi, Pemuda. Aku hanya menjalani perintah dari Tuhan. Bukan darimu”

“Gak bisa!! Gua gak terima!!!”

“Berisik amat, sih?! Udeeeeh ikut aja. Lo bisa apa sekarang?!” Malaikat mulai kesal dengan tingkah pemuda itu.

“Gua gak terima ente dah bohongin gua!! Gak terima!!”Pemuda itu masih membandel meski dirinya kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Halah! Sekali-kali nyenengin orang yang mau mati. Gak ada salahnya juga kaleeee…!!”

Setelah berkata demikian Malaikat itu mencengkram tangan Pemuda itu, lalu menyeretnya untuk ikut terbang menuju angkasa. Sementara pemuda itu terus meronta-ronta tanpa bisa melepaskan diri.

“TIDAAAAAAAAAKKKK……..!!!!”

Kini Malaikat Maut yang tersenyum penuh kemenangan.

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s