Bujuk Ibu

Posted: Juli 1, 2011 in Puisi

Bujuk ibu untuk mau menata kembali rumah kita. Agar tak lagi terlihat seperti kapal pecah. Lihatlah! Celana dalam Bapak tersembunyi dibawah kursi. Sedangkan baju kesayanganku berubah fungsi menjadi kain lap. Handuk Kakak pun berubah menjadi keset. Seragam sekolah Adik juga tak lagi terlihat putih, tapi sudah berwarna coklat. Tolong, bujuklah ibu..

Siapa yang akan menghidangkan makan? Kalau bukan ibu yang memasak?. Bapak hanya pandai mencari uang, aku hanya tahu menggunakan semua yang sudah tersedia, Kakak sibuk dengan tunangannya, Adik selalu keasikan main Play Station. Sudah pasti kita kelaparan. Bujuklah ibu…

Jangan sampai setiap pagi kita dibuat bingung. Saat Adik mencari seragam sekolah, saat Bapak mencari kaos kaki, saat Kakak tak tahu dimana meletakan kunci motor, atau aku yang selalu bangun kesiangan. Sarapan pagi pun tidak ada. Cepat! Bujuklah Ibu…

Apa Ibu marah kepada kita semua? Tak ada yang tahu. Tapi sudah sebulan ini Ibu tak pernah mau mengurusi kita lagi. Setiap Bapak pulang, tak pernah ada kopi atau teh hangat yang tersedia. Setiap Adik pulang, tak pernah ada makanan diatas meja. Saat Kakak pulang larut malam, tak ada yang membukakan pintu. Saat aku pulang, aku merasa kesepian tak ada teman berbincang. Ayo Cepat!, bujuk ibu..

Pak! Cobalah untuk membujuk Ibu untuk mau mengurusi kita lagi. Rayulah sebagaimana dulu Bapak merayu Ibu untuk mau jadi pacar Bapak. Bawa Bunga yang paling Ibu suka, Pak. Ya! Bunga mawar tentunya . Ibu pasti suka. Atau bawakan saja perhiasan mewah sekali ini saja. Biar ibu senang. Ayo, Pak! Cepat rayu Ibu…

Kakak juga harus mau mencoba merayu Ibu. Biasanya Kakak paling pandai memuji-muji Ibu. Atau sesekali kakak coba memijat Ibu seperti yang dulu sering kita lakukan sama-sama. Kalau perlu bawa pacar Kakak yang akan Kakak nikahi itu, untuk membantu membujuk Ibu. Kalau perlu, batalkan rencana pernikahan Kakak dengan dia. Kalau memang Ibu tidak merestui. Ayolah, Kak! Coba rayu Ibu…

Dan untuk Adik, cobalah kamu berhenti jadi anak yang cengeng. Siapa Tahu Ibu senang dengan perubahan sikap kamu yang selalu saja manja. Belajarlah yang rajin, biar nanti kamu bisa membuat ibu senang, saat melihat nilai kamu yang bagus. Kalau perlu, kamu harus jadi juara 1 dikelas. Ayo, Dik! Cepat rayu Ibu…

Akupun berjanji untuk mau membantu Ibu sepulang dari kegiatanku sehari-hari. Berjanji untuk mau memijat tubuhnya yang letih setelah seharian sibuk melayani kita. Aku berjanji untuk mau mendengar nasehatnya, berjanji untuk rajin sholat lagi. Agar ibu senang dan mau kembali lagi kepada kita. Aku akan coba membujuk Ibu..

Aku sungguh-sungguh merindukan keadaan rumah kita seperti dulu lagi. Rapih, terawat dan teratur. Tidak seperti sekarang ini. Berantakan! Lebih mirip kapal pecah. Sangat terlihat betapa sekarang ini tidak pernah ada sentuhan perempuan lagi dirumah kita. Malu rasanya kalau ada tamu yang datang.

Lihat! Sudah hampir seminggu lantai tak pernah di pel. Bahkan pakaianku pun sudah hampir habis persediaannya. Dikamar mandi bertumpuk semua pakaian kotor kita, piring dan gelas yang juga tidak pernah dicuci. Kamar mandi juga terlihat mulai berlumut dan licin. Apalagi bak dan toiletnya, tak pernah lagi terlihat bersih dan mengkilap.

Persediaan beras sudah habis! Perlangkapan mandi seperti sabun, shampo dan pasta gigi juga sudah menipis. Kita semua terlalu sibuk dengan kegiatan kita masing-masing. Bahkan untuk membuat segelas kopi. Air panas tak pernah aku temukan didalam termos.

Aku benar-benar butuh ibu. Aku ingin semua kembali normal. Aku ingin semua telah tersedia dan tersaji seperti dulu. Semua hal yang biasanya dikerjakan Ibu, dan Ibu dengan senang hati selalu melakukan itu untuk kita.  Hanya untuk kita. Karena rasa tanggung jawab dan juga karena rasa cinta kepadanya kita. Tapi apa yang kita lakukan selama ini untuk Ibu?. Kita sama sekali tak pernah sekalipun ikut membantu meringankan pekerjaan Ibu, Itu terbukti sekarang. Dimana kita tak bisa melakukan semua hal tanpa Ibu. Kita tak pernah memperhatikan Ibu sama sekali. Ketiak ia terlihat letih, atau saat badan Ibu yang kurang sehat. Kita selalu acuh kepadanya.  Ah, Cepatlah bujuk Ibu untu pulang..

Tolonglah katakan kepada Ibu, Aku rindu Ibu.. katakan kepadanya, Tolong Ibu jangan mati dulu… Dan katakan kepada semua orang. Untuk menggali kuburan Ibu. Bujuk Ibu untuk pulang..Ayolah, rayu Ibu.  Aku mohon..

Sungguh, Aku kangen sekali sama Ibu..

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s