Bidadari Yang Terpasung

Posted: Juli 1, 2011 in Cerpen

Akhirnya dia datang, setelah sekian lama menanti kehadirannya menjadi nyata dalam hidup. Cinta dan Kekasih. Tak ada yang lebih  didamba dalam kehidupan yang hampa lagi sepi selain itu. Yang mampu menggairahkan kehidupan, memberi warna yang menceriakan hari-hari, kehidupan penuh dengan cahaya dan nuansa keindahan yang tak pernah berakhir. Ah, bahagianya….

“Aku pulang sayang..”

“Mas…”

Sebuah kerinduan yang tertahan sekian lama, terlepaskan dalam sebuah pelukan erat diantara dua hati yang saling mencintai.

“Aku kangen sekali sama kamu, sayang..”

“Aku juga, Mas..”

Ditatapnya wajah Kekasih hati lekat-lekat. Tatap mata penuh cahaya yang mencerminkan Cinta itu luluh dalam sedikit keharuan sebuah perjumpaan.

“Kamu semakin cantik, Sayang…”

“Kamu juga, Mas. Kamu terlihat semakin tampan dan gagah…”

Saling tersenyum dalam bahagia. Lalu lebur dalam cium mesra dua bibir yang semenjak awal perjumpaan tak berhenti berbicara mengungkap rasa hati. Kini dalam peluk hangat, mereka saling mengunci bibir satu sama lain untuk mengungkap rasa hati itu. Yang perlahan semakin menggelorakan hasrat mereka untuk segera masuk kedalam kamar. Dan melepas rindu-rindu itu dengan sebuah percintaan yang panjang dan bermakna kasih.

“Aku selalu merindukanmu, Mas,”

“Ya, aku juga begitu, Sayang. Dan mulai hari ini, aku tidak akan kembali ke kota. Aku ingin selalu bersamamu disini. Membangun mimpi-mimpi kita dengan semua yang kita punya disini, apa adanya”

Perempuan itu semakin mendekap erat tubuh kekasih tercinta dalam rebah di dadanya. Dan itu berbalas dengan dekapan yang juga erat dari Lelaki yang mencintainya, yang berkali-kali mengecup keningnya.

“Selama ini, telah banyak orang yang mencoba menggoda diriku untuk menghianatimu, Mas”

“Aku tahu itu. Lelaki mana yang tidak akan tergoda melihat kecantikanmu, Sayang. Betapa beruntungnya diriku”

“ Terkadang aku takut, Mas. Mereka akan berbuat hal-hal keji kepadaku yang hidup sendirian tanpa kamu…”

“Maafkan aku, Sayang… Aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu lagi. Aku pulang. Dan akan selamanya disini bersamamu”

“Benarkah, Mas?…”

“Iya, Sayang..”

Mata itu kembali beradu tatap mencari kebenaran atas apa yang terucap. Namun Cinta lebih tercermin dalam kebahagiaan di mata itu. Sehingga senyum terkembangkan untuk kemudian jatuh lagi pada ciuman. Dan mengulang percintaan untuk yang kesekian kalinya.

……

Hari-hari sepi dan sendiri saat dahulu  ditinggal lelaki tercinta, kini telah berakhir sudah. Penantian demi penantian dalam penuh harap cemas tak pernah  akan terjadi lagi. Bahagia. Hanya kebahagiaan yang dirasakan olehnya kini. Waktu-waktu kini dilewati dalam kebersamaan melakukan segala hal. Tertawa, bercanda, bercinta dan saling melepas puja-puji. Seolah menebus semua waktu yang sempat hilang dari kehidupan Cinta mereka. Sungguh sebuah pemandangan yang indah mereka sajikan. Yang membuat hati semua orang merasa senang melihatnya, namun sekaligus jatuh dalam rasa Iri hati.

“Malam ini kita jadi pergi kerumah orang tuaku, Mas?” tanya perempuan itu sambil meletakan segelas kopi keatas meja yang berada disisi Lelaki yang dicintainya.

“Jadi, sayang.. Kita naik sepeda, yah? Aku kangen bersepeda ria seperti jaman pacaran kita dulu,” ucap Lelaki itu sambil tersenyum penuh arti.

“I-iih, masih genit aja. Kalau begitu, aku siapin bekal dan oleh-oleh buat orang tuaku dulu ya, Mas”

“Iya, sayang…”

Perempuan itu masuk kembali kedalam rumah, yang dilepas sebuah senyuman dari Lelaki yang mencintainya. Lelaki itu untuk kembali menikmati suasana malam dari teras rumah sambil menikmati hisapan demi hisapan rokok kretek. Memandang pemandangan halaman rumah yang selama ini selalu dirindukannya, selama berada dalam perantauan. “Ah, Home Sweet Home. Tak ada tempat yang paling indah selain dirumah sendiri” ucap lelaki itu sendiri, disela-sela asap rokok yang mengepul.

…..

Sepeda itu dikayuh dengan perlahan, seolah menikmati setiap meter perjalanan. Melepas semua memori akan cerita masa lalu diantara mereka berdua. Sesekali terdengar tawa diantara mereka. Lelaki itu mengayuh sepeda tua yang menjadi saksi awal cinta mereka bersemi. Sedangkan sang Perempuan yang berada dikursi penumpang, melingkarkan tangan dipanggang sang Lelaki sambil menyandarkan kepala dipunggungnya.

“Kamu ingat saat pertama kali aku memboncengi kamu, Sayang? Saat aku mengantarkan kamu pulang?” tanya Lelaki itu.

“Iya, Mas. Aku ingat..”

“Dulu kamu masih malu-malu , Sayang.”

“Ya, iyalah, lha wong aku juga baru kenal kamu, Mas”

“Malu-malu tapi mau..!”

“Ih, sori yach. Siapa juga yang mau sama Mas”

“Buktinya dari dulu sampe sekarang, kalau diboncengi aku. Kamu pasti seperti ini, meski kita baru kenalan” Lelaki itu tersenyum  sambil melirik kearah belakang. Sang Perempuan langsung melepas lingkaran tangan itu dengan wajah dibuat cemberut manja.

“I-iih, Aku kan penakut, Mas. Bukan berarti aku ini perempuan gampangan. Mas Jahat!”

“Hahaha… tidak sayang. Kamu bukan perempauan gampangan. Tapi kamu adalah perempuan yang telah takluk oleh ketampananku ini.” Kembali Lelaki itu tertawa senang dalam menggoda.

“Weks! Ganteng dari hongkong?!”

Cerita yang mengulas kenangan membuat mereka semakin larut dalam nuansa rasa Cinta. Dengan sesekali tawa terlepas, disaat canda menggoda disajikan. Ah, indah sekali. Begitu romantis. Bulan pun merasa iri akan kebersamaan mereka saat ini. Gelap yang ada disepanjang perjalanan malam itu, seolah mampu memberi nuansa berbeda diantara mereka. Sampai saat……

Dipertengahan jalan, mereka dikejutkan oleh Lima orang Lelaki yag menghadang jalan mereka. Lalu kelima lelaki tersebut dengan sikap kasar dan memaksa menyeret mereka berdua, menjauh dari jalan. Sepeda Tua tergeletak dalam keadaan rusak. Sang lelaki yang tak berdaya dalam cengkraman Tiga orang dari Para Penghadang itu. Sementara sang Perempuan itu meronta-ronta, berada dalam panggulan dibahu seorang Penghadang lain yang bertubuh besar.

Ditempat yang sepi dan jauh dari jalan. Mereka berhenti. Penghadang yang bertubuh besar menghempaskan Perempuan itu dengan kasar diatas tanah rerumputan. Sementara tiga dari mereka mengunci gerak sang lelaki. Dan salah seorang  dari mereka yang sedari tadi tak melakukan apapun. Kini dengan brutalnya menghajar Sang Lelaki dengan pukulan dan tendangan secara betubi-tubi tanpa ada perlawanan.

Perempauan itu menjerit-jerit dan meronta-ronta melihat Lelaki yang dicintainya disiksa sedemikian rupa tanpa bisa melawan. Namun satu tamparan dari Penghadang yang bertubuh besar membuatnya jatuh tak sadarkan diri. Disaat melihat orang yang dikasihinya diperlakukan kasar seperti itu dan pingsan.  Sang lelaki dengan segenap tenaga, meronta dan mencoba melepaskan diri dari kuncian Para Penghadang. Namun apa daya, secara tiba-tiba sebuah belati dengan tak disangka-sangka mendarat telak kearah jantungnya. Hingga diapun jatuh tersungkur berlimang darah. Mati.

Bulan meneteskan airmata menyaksikan peristiwa itu. Kelima Manusia Penghadang yang berhati iblis itu, tertawa keras dalam senang. Lali secara bergantian menggagahi tubuh Perempuan yang tak sadarkan diri itu, berkali-kali. Tanpa belas kasih, tanpa rasa takut dan rasa sesal sedikitpun. Disaksikan tubuh mati Lelaki yang mencintai sang Perempuan itu. Malam menjerit, ditandai dengan hembusan angin yang berhembus kencang. Anjing melolong, seolah mengabarkan satu tragedi dalam kehidupan manusia yang kembali terulang ditempat ini.

…….

“Apa kita harus memperlakukan anak kita seperti itu, Pak?” tanya Ibu sang Perempuan kepada Suaminya. Tetes airmatanya jatuh deras melewati pipi.

“Aku juga ndak mau, Mak. Tapi bagaimana lagi. Anakmu terus-menerus buat heboh di kampung kita sejak kejadian malam itu”

“Iya, Pak. Kasihan anak kita.”

“Iya, Mak. Aku juga kasihan. Tapi buat kebaikan kita semua, mungkin memang lebih baik kalau dia dipasung seperti itu, Mak.”

“Iya, Pak…

“Maafkan aku ya, Mak.. Maafkan Bapak, anakku…”

Kedua orang tua itu saling merapatkan tubuh, sambil menatap sedih Putri kesayangan mereka yang telah kehilangan kewarasannya, yang terpasung dikamar itu.

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Iklan
Komentar
  1. mbaheariel berkata:

    cerpen ya bosss???
    mautukeran link nggak boss???
    kalomau langsung komen balik za,,,,,ntar akupasang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s