<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>GebLexs</title>
	<atom:link href="http://geblexs.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geblexs.wordpress.com</link>
	<description>Cerpen, Puisi dan Uneg-uneg (muntahan diri)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Oct 2011 11:44:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='geblexs.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>GebLexs</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://geblexs.wordpress.com/osd.xml" title="GebLexs" />
	<atom:link rel='hub' href='http://geblexs.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hilang Dan Hampa</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/09/14/hilang-dan-hampa/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/09/14/hilang-dan-hampa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 23:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang tiba-tiba serasa hilang dari apa yang ada di dalam hati. “Ren, cepat pulang, Nak. Mama tunggu di rumah” Sebuah ruang yang tiba-tiba menjadi kosong, ruang yang dulu sempat terisi oleh sosok orang yang dicintai. Ruang itu senantiasa masih sama, selama kita masih bisa mendapatkan sosok dirinya. Walau hanya sekedar suara, atau hanya berwujud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=185&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/09/gadis-hujan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-186" title="gadis hujan" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/09/gadis-hujan.jpg?w=246&#038;h=300" alt="" width="246" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang tiba-tiba serasa hilang dari apa yang ada di dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ren, cepat pulang, Nak. Mama tunggu di rumah”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah ruang yang tiba-tiba menjadi kosong, ruang yang dulu sempat terisi oleh sosok orang yang dicintai. Ruang itu senantiasa masih sama, selama kita masih bisa mendapatkan sosok dirinya. Walau hanya sekedar suara, atau hanya berwujud dalam tulisan. Dia masih tetap ada dalam ruang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ingat pesan papa, selesaikan studimu itu. Jangan kau jalani semua itu dengan niat yang tidak sungguh-sungguh! Anak papa harus sukses!”</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-185"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika, tiba-tiba sosok itu hilang dalam kehidupan, meskipun jasadnya masih bisa kita peluk. Ruang yang tiba-tiba kosong menghantarkan hampa bersama letupan-letupan kecil dalam dada. Membangkitkan kesadaran, bahwa sosok dirinya tidak akan bisa kita temui lagi selama-lamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kuatkan hatimu, Nak. Papa sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya…”</p>
<p style="text-align:justify;">Letupan itu juga menghadirkan sesak yang tiba-tiba terasa. Mendesak-desak dalam sakit yang perlahan mulai menyusup  lalu menghujam. Merobek kantung-kantung air hujan dari awan hitam untuk segera jatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Papaaaa…..!! Baanguun.., Pa! Ini Renata, Pah! Jangan tinggalin Renata, Pah…!! Bangun, Pah! Banguuunn…!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Menjerit dalam tangisan yang mengharukan. Dalam rasa hampa yang nyata, masih tidak percaya bahwa sosok yang begitu dicintai telah pergi untuk selama-lamanya. Diguncang-guncangkan tubuh yang sudah tidak lagi merespon apapun yang ada di sekitarnya. Masih berharap, semua hanyalah mimpi yang sementara datang dan berakhir ketika terjaga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah, Sayang…Ikhlaskan papamu pergi, Nak”</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan tidak perduli ketika semua orang mencoba mengingatkan bahwa semua itu benar-benar terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak! Papa tidak boleh mati! Papa harus hidup! Papaaa….!! Bangun, Pa! Banguuunn…!”</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada satu orang pun yang dapat menahan jatuhnya airmata, melihat kesedihan dan rasa kehilangan itu. Suasana haru selalu menghanyutkan semua orang, meski pun kesedihan yang dirasa Renata, tidaklah benar-benar mereka ketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudahlah, Renata… Kasihan papamu. Ikhlaskan papamu pergi dengan tenang, Sayang..”</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab mereka tidak begitu mengetahui bagaimana sebenarnya sakit dan sesak yang dirasa Renata. Maka semua usaha mereka untuk mengingatkan serasa percuma.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidaaaaakk….!! Papa sudah janji sama Renata! Papa mau  hadir di-acara kelulusan Renata nanti! Papa janji akan melihat Renata menikah dan punya anak! Papa sudah janji! Paah..!Bangung, Pah&#8230; Ayo banguuuun, Pah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Semua memang terjadi dengan begitu tiba-tiba, dan Renata tidak pernah memiliki firasat apapun tentang papanya.  Bahkan sebelumnya, mereka sempat berbincang di telfon.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana kabar anak papa sekarang?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Makin cantik dong, Pah”</p>
<p style="text-align:justify;">“Masa sih?! Emang bisa anak papa jadi cantik?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“I-ih, Papa nyebelin! Papa jelek!”</p>
<p style="text-align:justify;">Keakraban mereka sudah diketahui semua orang. Bukan karena Renata anak semata wayang yang selalu manja, tapi karena mereka memang seperti itu sejak Renata masih kecil. Papa adalah sosok orang tua yang selalu bisa mengikuti perkembangan hidup anaknya, menjadi teman bermain, sahabat, sekaligus orang tua. Seperti saat bermain masak-masakan, berpura-pura menjadi seorang ibu, dan bahkan rela didandani oleh Renata dengan peralatan <em>make</em><em>-</em><em>up</em> Mamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“I-ih, papa diam dong! Masa mau didandanin ketawa-ketawa terus. Jadi jelek kan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya. iya.. tapi, kok, papa jadi mirip kaya badut sih?”</p>
<p style="text-align:justify;">“I-ih, makanya papanya diem doong! pasti gak jadi kaya badut, deh”</p>
<p style="text-align:justify;">“Masa sih?! papa bisa jadi cantik kaya mama?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya doong..”</p>
<p style="text-align:justify;">Terlalu banyak kenangan indah yang membuat hati tidak rela untuk kehilangan sosok itu. Terlalu sakit rasa hampa yang tiba-tiba dirasa. Kemana lagi bisa ditemui jika rasa rindu itu datang? Tidak akan bisa lagi merasakan kehangatan peluknya yang penuh kasih. Kepada siapa mencurahkan semua perasaan atas persoalan hidup? Jika selama ini hanya kepada dirinya selalu berbagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Anak papa kenapa lagi, nih? Kok, dari tadi pulang sekolah cemberut terus. Jelek sekali anak papa kalau lagi cemberut..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bodo!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pokoknya Renata gak mau sekolah lagi!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Weh..Weh..Weh.. ada apa gerangan rupanya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Renata sebel sama Doni! Setiap hari selalu aja jailin Renata. Kesel, Paah..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kurang ajar! Biar papa laporin si Doni ke Kepala Sekolah! Biar dikeluarkan dari sekolah, terus jadi orang bodoh. Setelah dia besar, biar jadi gembel sekalian!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kok?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya. Papa juga mau lapor ke polisi. Biar si Doni di penjara seumur hidup. Terus biar Mama-Papanya nangis terus-terusan karena sedih anaknya di penjara. Trus sakit, trus meninggal deh. Huh!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan, Pah.. kasihan mereka nantinya kalau begitu. Jangan laporin Doni ke polisi dan kepala sekolah ya, Pah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Gak bisa! Doni sudah bikin anak kesayangan papa cemberut terus. Doni harus dihukum!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Paah!.. jangan ya, Pah. Please…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Memang kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pokoknya jangan, Pah. Renata mau sekolah lagi, kok..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Heh? Beneran, nih?”</p>
<p style="text-align:justify;">“He-eh”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya sudah. Papa gak jadi laporin Doni ke Polisi kalau begitu”</p>
<p style="text-align:justify;">“Janji ya, Pah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, Sayang.. Papa janji!”</p>
<p style="text-align:justify;">Semua kenangan itu semakin membuat sesak dan sakit yang terasa di dalam dada, semakin membuat rindu itu semakin tak tertahan. Betapa kehampaan ingin sekali disingkirkan dari hati. Menjadi tidak kuasa menerima kenyataan ini. Semua terlalu tiba-tiba. Tidak pernah sedikitpun memberi kesempatan untuk mempersiapkan hati menerima kehilangan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Renataaa…!! Bangun, sayang! Istigfar, Nak.. Istigfar!”</p>
<p style="text-align:justify;">Semua menjadi gelap sama sekali. Tidak sadarkan diri. Hantaman telak begitu menusuk ke dalam jiwa. Dan jika seandainya boleh memilih, mungkin lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan seperti ini. Bahkan tidak mampu untuk menjabarkan dengan pasti, bagaimana yang dirasa sesungguhnya. Ketika sadar, Renata langsung kembali dalam jerit tangisan di pelukan Mama. Memohon untuk diberi kekuatan atas apa yang dirasa. Ketegaran itu hanya sesaat didapat, terlihat dari tangisan yang mereda menjadi isakan kecil. Tapi hampa dan rindu menghantam kesadaran, betapa keinginan terbesar saat ini adalah melihat papa tersenyum lagi untuknya. Bukan dalam diam membisu dan membatu seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Papa, Maah… Renata kangen sama papa, Mah. Renata gak mau papa meninggal, Mah. Renata masih ingin papa hidup, Mah. Renata pengen papa, Mah…!”</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sepertinya, jasad itu masihlah cukup untuk sekedarnya melepaskan pelukan terakhir kali sebelum akhirnya hilang sama sekali. Dan paling tidak, mampu menjadi tempat di mana ia bisa meluapkan segenap rasa yang ada. Renata bangkit dari tempat tidur dan langsung berlari menghampiri jasad papanya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Papaaaa….!</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, ketika sosok itu benar-benar telah hilang wujudnya. Karena jasadnya telah terkubur di dalam tanah. Di setiap sudut ruang di rumah itu, selalu saja mencari kilasan bayang dan kenangan tentang masa-masa di mana kebersamaan itu pernah ada. Tertidur di dalam kamar , dimana Papa biasa tertidur. Mencari harum tubuhnya yang khas, yang selama ini menjadi canda yang menghadirkan tawa.</p>
<p style="text-align:justify;">“iiih! Papa bau asem! Jorok!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Masa sih?! Perasaan wangi, deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bauuuu…!!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Wangiiii….!!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Papa joroook..!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ganteeeeeengg…!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jorok!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ganteng!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jorok! Jorok! Jorok!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ganteng! Ganteng! Ganteng!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hoekkss!!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Emmmuaach!”</p>
<p style="text-align:justify;">“iiiiiih!…..Mamaaaaa…!! Tolooong…! Papa jorok, tuh!!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Biarin! Weeeek..!”</p>
<p style="text-align:justify;">Tak terasa butir-butir airmata jatuh dan membasahi bantal guling yang dipeluk erat. Di mana harum tubuh papa masih melekat. Tanpa terasa pula getar bibir menahan isak tangis agar tak tumpah berlebih, meski denyut kesedihan perlahan menyusup semakin kuat dalam hati. Rindu… Renata rindu Papa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pah.. Maafin Renata. Renata sayang sekali sama papa, Pah…..”</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kesadaran itu telah diraih untuk bisa mengikhlaskan kepergiaanya. Namun, biarkan semua rindu-rindu dalam tangisan itu dinikmati sesaat. Sebelum lupa mungkin akan datang kemudian. Selamat jalan, Pah…</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=185&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/09/14/hilang-dan-hampa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/09/gadis-hujan.jpg?w=246" medium="image">
			<media:title type="html">gadis hujan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan-perempuan..</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/24/perempuan-perempuan/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/24/perempuan-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 00:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Waktu tugasku telah selesai. Pagi hampir tiba. Dingin semakin terasa menusuk tubuh ini dan aku gelisah di dalam kamar, yang tadi sempat ramai oleh dengus nafsu para lelaki hidung belang itu. Bahkan keringat dan bau tubuh mereka masih menempel di kain sprei ini. Tapi aku sudah terlalu terbiasa… Aku rebahkan tubuh diatas ranjang dalam kegelisahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=149&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/490x280-pic2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-182" title="490X280 PIC2" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/490x280-pic2.jpg?w=300&#038;h=171" alt="" width="300" height="171" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu tugasku telah selesai. Pagi hampir tiba. Dingin semakin terasa menusuk tubuh ini dan aku gelisah di dalam kamar, yang tadi sempat ramai oleh dengus nafsu para lelaki hidung belang itu. Bahkan keringat dan bau tubuh mereka masih menempel di kain sprei ini. Tapi aku sudah terlalu terbiasa…</p>
<p style="text-align:justify;">Aku rebahkan tubuh diatas ranjang dalam kegelisahan yang  berbeda dari biasanya. Sebelumnya, aku selalu gelisah antara ketakutan diriku akan  dosa dan juga Tuhan. Kegelisahan yang selalu tentang diriku yang merasa kotor dan hina sebagai mahluk Tuhan. Tapi pagi ini, kegelisahanku tiba-tiba menjadi tak sama. Ada yang mengganggu pikiranku tadi.<span id="more-149"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ya, malam ini aku dikejutkan oleh kedatangan tamu seorang perempuan. Padahal selama ini, tamu-tamu yang datang sudah pasti selalu laki-laki. Karena hanya laki-laki yang datang ketempat ini. Tapi perempuan itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya akupun sempat terkejut saat Mami mengatakan kepadaku, bahwa ada tamu perempuan yang mencariku. Kok? Masih dengan perasaan tak percaya. Tapi Aku mendapati kebenaran ucapan Mami, bahwa memang tamu yang mencariku adalah seorang perempuan. Nah lho?!</p>
<p style="text-align:justify;">“ Silahkan duduk, Mbak?,” aku mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di kursi riasku. Dan aku sendiri duduk di tepi ranjang. Perempuan itu masih celingukan melihat seluruh sudut kamarku.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maaf,Mbak&#8230; Ada apa yah, cari-cari saya? Maaf, kalau saya ini hanya bersedia melayani laki-laki, lho” ucapku lagi sambil memperhatikan dirinya yang masih berdiri seperti orang bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Eh, iya Mbak. Maaf&#8230; Perkenalkan nama saya Imah, Mbak,” ucapnya kemudian sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman, lalu duduk di kursi.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Sephia..,” jawabku menyambut uluran tangannya. Perempuan itu lalu tertunduk, pandangannya jatuh pada kedua tangan yang dia mainkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbak…” Aku coba untuk mengingatkan kepadanya tentang pertanyaanku yang hanya dia jawab dengan diam begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Nggg… maaf, Mbak Sephia. Saya ini sebenarnya istrinya Mas Bejo. Dan saya datang kesini mau minta tolong sama Mbak Sephia,” ucapnya pelan. Nyaris aku tidak bisa menangkap apa yang dia ucapkan. Apalagi dia mengatakan itu masih dalam posisi kepala yang tertunduk dan jari-jari tangan yang  ia mainkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku sedikit mendengar kata-kata yang dia ucapkan, “Istri bejo”. Bejo yang aku kenal adalah lelaki yang berperawakan sedang-sedang saja. Dan tampangnya juga biasa-biasa saja. Tapi dia memang pelanggan tetapku yang hampir setiap hari mendatangi aku. Untuk tidur atau sekedar minta ditemani minum. Tapi apa benar perempuan ini adalah istri Bejo?</p>
<p style="text-align:justify;">“ Mbak ini beneran istrinya bejo?,” tanyaku menyelidik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia hanya menganggukan kepala, lalu tangannya masuk ke dalam kantung daster yang ia kenakan saat itu. Kemudian dia menyerahkan Photo yang tadi ia ambil dari kantung dasternya kepadaku. Sesaat aku mengamati photo itu. Ya, ternyata benar. Photo ini sudah cukup memberi jawaban atas pertanyaanku tadi. Di dalam photo itu aku melihat sosok Imah dan Bejo yng duduk di kursi pelaminan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menyerahkan kembali photo itu kepadanya, aku bertanya lagi,“Trus apa hubungannya sama saya? Sampai-sampai Mbak datang sendiri kesini. Padahal Mas Bejo hari ini tidak datang kesini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya yang pucat itu, tiba-tiba terlihat semakin pucat  seta mendung dalam kesedihan. Ditatapnya photo itu. Kenangan terindah dalam hidupnya yang kemudian menghilang. Bejo, lelaki yang dicintainya, yang dulu selalu bersikap lembut lagi penyabar. Tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang pemarah lagi kasar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap pulang, selalu disaat waktu menjelang pagi. Dengan  tubuhnya yang selalu limbung kesana-kemari saat dia berjalan. Dari mulutnya tercium dengan jelas bau alkohol. Belum lagi wangi parfum yang jelas-jelas milik seorang perempuan. Karena Imah tak pernah memiliki parfum lagi. Mas bejo tidak pernah membelikannya lagi, kecuali pada saat menjelang hari pernikahan mereka dulu. Sedangkan Bejo sendiri juga tak pernah memakai parfum. Tak pernah pula Imah melihat parfum itu ada di dalam rumah kontrakan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbak…,” tegurku lagi sambil menepuk-nepuk paha perempuan itu. Seketika semua lamunan Imah buyar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh.. Maafin saya, Mbak sephia,” ucap Imah sedikit gugup. Lalu di masukan lagi photo itu ke dalam kantong dasternya. Dan kembali ia bermain dengan jari-jari tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Mbak… Mbak Imah belum jawab pertanyaan saya,” ucapku sambil mencoba menatap wajah Imah yang bersembunyi dalam tertunduk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ngggg… Saya mau minta tolong sama Mbak Sephia. Supaya Mbak Sephia tidak lagi mau menerima Mas Bejo sebagai tamu disini. Tolong ya, Mbak” ucap Imah memelas.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Lho?! Memangnya kenapa? Kalau disini, saya tidak bisa pilih-pilih tamu, Mbak. Saya harus layani semua tamu yang mau dengan saya. Bisa-bisa nanti saya yang kena dimarahi Mami disini.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi, Mbak…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bukan kemauan saya juga, kalau Mas Bejo datang ke sini, Mbak. Tolong mengerti profesi saya ini, Mbak Iah”, kini aku yang memohon pengertian darinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imah diam. Sepertinya dia sadar bahwa semua ini memang bukan salahku, jika Bejo begitu suka datang ke tempat ini untuk menghambur-hamburkan uang; bermabuk-mabukan untuk kemudian tidur dengan para pelacur di sini. Uang yang seharusnya Bejo berikan untuk dirinya dan anak-anak, untuk keperluan makan sehari-hari dan juga keperluan anak-anaknya sekolah. Tapi, semua ludes sama sekali. Sehingga Imah harus pontang-panting meminta pinjaman sana-sini, meminta-minta belas kasih para tetangga agar dia dan anak-anak bisa sekedar makan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Mbak Sephia.., kita sama-sama perempuan kan?,”tanya Imah kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Imah. Lalu hanya menjawab dengan anggukan kepala.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Mbak pasti mengerti perasaan saya sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak saya,” ucap Imah sambil menatap sendu ke arah Sephia. “Mbak Sephia tahu betapa sakitnya hati saya, mengetahui bahwa suami saya tercinta ternyata sering tidur dengan perempuan lain selain diri saya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam, tidak bisa berkata apa-apa. Ucapan Imah membuat luka di dalam hati ini kembali terasa. Terbayang oleh bagaimana diriku juga pernah dicampakan oleh  seorang lelaki. Lelaki yang telah menghamili diriku, lalu pergi meninggalkannya dengan rasa malu yang harus ditanggung oleh semua keluargaku. Dihina, dilecehkan dan dibuang dari kampung halaman tercinta.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Memang kebobrokan sifat suami saya bukan sepenuhnya salah, Mbak Sephia. Mungkin juga karena salah saya. Lihatlah, Mbak&#8230; saya dan Mbak Sephia jauh berbeda. Saya tidak tahu bagaimana harus berdandan; harus berpakaian yang menarik buat suami saya.”  Terlihat airmata Imah jatuh dan mengalir deras di pipinya yang pucat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku masih terdiam. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Ada perasaan malu dan juga sakit yang sama seperti yang dirasakan Imah.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya sadari kekurangan saya, Mbak. Jadi tidak masalah jika Mas Bejo akhirnya lebih memilih perempuan lain untuk memuaskan nafsu birahinya. Tapi saya merasa kasihan setiap saat melihat anak-anak saya, Mbak. Mereka butuh sosok bapak mereka, bapak yang  baik dan seharusnya menjadi panutan. Mereka masih butuh makan dan jaminan untuk masa depan mereka kelak, Mbak” Tangis Imah semakin keras di sela-sela waktu ia bercerita. Dihapusnya airmata itu dengan ujung lengan daster lusuh yang ia kenakan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Apa saya juga bersalah sama anak-anak, Mbak Imah?” tanyaku kini dengan perasaan bersalah.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tidak, Mbak&#8230; Mbak Sephia tidak salah apa-apa. Mas Bejo yang memang selalu melupakan kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Dia lupa, bahwa uang yang didapat dan ia miliki itu, seharusnya menjadi hak anak istrinya. Bukan milik botol-botol minuman dan juga bukan milik Mbak Sephia,” Imah tertunduk. Rasa sakit yang semakin terasa di dalam dadanya. Memaksa airmata itu terus tumpah. Namun saat ini, Imah ingin melepaskan semua beban yang telah lama terpendam di hatinya. “Saya kasihan melihat anak-anak saya, Mbak Sephia. Mereka harus terus merasa kelaparan. Karena bapaknya selalu lupa memberi saya uang untuk anak-anak makan. Uangnya telah dia habiskan ditempat ini”</p>
<p style="text-align:justify;">Hening. Hanya ada airmata dari kedua perempuan itu yang bercerita tentang luka-luka yang ada di dalam hati mereka. Rasa sakit yang dihadirkan oleh mahluk ciptaan Tuhan yang bernama laki-laki.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Maafkan saya, Mbak Imah,” ucapku kemudian sambil mengenggamn tangan Imah. Seolah mengucapkan kepadanya, betapa diriku juga ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Betapa aku juga mengerti akan rasa sakit itu. Kami sama-sama perempuan, hamba Tuhan, yang selalu saja tertindas.</p>
<p style="text-align:justify;">….</p>
<p style="text-align:justify;">Aku membalik posisi tidur. Rasa yang saat ini ada begitu mengganggu. Perempuan itu, Imah, Istri dari salah satu pelanggan tetapku. Seorang laki-laki yang telah menyia-nyiakan keluarganya demi kesenangannya sendiri di tempat ini. Dengan botol-botol minuman itu dan mengumbar syahwat bersamaku di ranjang ini. Akh, betapa berdosanya aku! Lembaran-lembaran rupiah yang dia berikan kepadaku adalah uang yang seharusnya menjadi milik Imah dan anak-anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapiii… Akh, masa bodoh! Itu bukan kesalahanku! Aku hanya menerima uang itu. Bukan salahku juga, jika Mas Bejo begitu menyukai aku. Mungkin karena servisku yang bagus dan dia merasa puas. Mana kutahu uang itu dari mana dan buat siapa?!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku lalu mendesah, menatap kursi tempat dimana Imah duduk tadi. Ia adalah perempuan yang begitu polos dan sederhana. Betapa tololnya perempuan itu?! pikirku. Mengapa dia mau bertahan dan ditindas oleh lelaki yang bernama Bejo?! Kenapa tidak minta cerai saja?! Atau bunuh aja lelaki itu sekalian!</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Mbak Sephia. Lagi pula saya kasihan melihat anak-anak, kalau sampai saya pisah dan bercerai dengan Mas Bejo,”  Aku teringat apa yang dikatakan Imah tadi. Ya, ucapan dari perempuan bodoh sudah cukup membuatku merasakan marah pada keadaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akupun merasakan kebodohan Imah sebagaimana kebodohan diriku dulu, ketika mau saja diperdaya seorang laki-laki yang telah beristri. Dan percaya akan semua kata-katanya. Sampai akhirnya bersedia untuk kehilangan Mahkota yang paling berharga. Untuk kemudian dicampakan. Akh, kita memang perempuan-perempuan tolol, Mah, desisku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin itu semua karena aku dan Imah sama-sama perempuan dari desa. Yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Jangankan kuliah?! Tamat sekolah menengah saja, tidak! Tapi.., Ah, tidak juga. Aku sering melihat dan mendengar bahwa kebodohan itupun sama-sama dilakukan oleh mereka, perempuan-perempuan dari kota. Yang mempunyai gelar dan pernah sekolah  tinggi, bahkan yang lulusan sekolah luar negeri sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mungkin kebodohan kami bukan karena masalah pendidikan semata. Tapi mungkin juga karena moral dan sifat lemah kami yang lebih banyak memandang sesuatu dengan perasaan. Entahlah, mungkin juga karena cinta?! Cinta yang membutakan hati dan pikiran kami. Mungkin juga nafsu?! Nafsu yang tidak bisa kami kendalikan lagi. Atau mungkin karena uang?! Entahlah&#8230; perduli amat dengan kebodohan itu!</p>
<p style="text-align:justify;">…..</p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian malam tadi, tiba-tiba membuatku merasa semakin terhina dengan profesinya sebagai wanita penghibur. Entahlah, apa benar para lelaki itu butuh hiburan? Padahal semuanya ada dan telah mereka miliki di rumah. Bukankah rasa lelah seharusnya dapat hilang dengan tawa dan canda anak-istri mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa gunanya aku sebagai penghibur? Toh, mereka masih bisa untuk selalu tertawa setiap kali menenggak semua botol-botol minuman itu?! Aku hanya duduk diam dan menemani mereka, yang sesekali mereka menjamah bagian-bagina tubuhku yang mereka suka.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau mungkin aku hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu mereka? Padahal mereka bisa melampiaskan itu di rumah secara gratis tanpa harus membayar, tidak seperti saat bersamaku. Ataukah karena kepuasan?! Kepuasan darimana?! Kerjaku gampang saja, tidur telanjang lalu mengangkang, Selesai! Titik! Darimana puasnya?! Toh, mereka semua kadang melakukan itu dengan tanpa kesadaran. Karena mereka terpengaruh oleh minuman yang sebelumnya mereka tenggak.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau hanya karena penasaran dan kemudian merasa ketagihan?! Itu berarti diriku ini tidak jauh beda dengan namanya candu atau narkoba, yang hampir merenggut nyawa adik laki-lakiku. Akh, entahlah&#8230; Otak ini buntu!</p>
<p style="text-align:justify;">Atau semua pikiran-pikiran yang muncul ini, hanya perasaanku saja? Yang paling mempengaruhi keinginan-keinginanku; keinginan yang tiba-tiba; keinginan untuk berhenti dari pekerjaan ini. Perasaan sesama perempuan; perempuan yang merasa sama-sama tersakiti oleh laki-laki; sama-sama mempunyai naluri sebagai seorang ibu; sama-sama mengerti perasaan perempuan dengan semua kebodohan dan ketidak berdayaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akh, aku tak ingin menjadi perusak kebahagiaan dan rumah tangga orang. Besok aku harus pulang ke kampung dan berhenti dari pekerjaan ini. Uang tabunganku mungkin sudah cukup untuk memulai kehidupan baru. Mami pasti mengerti. Tekadku telah bulat!</p>
<p style="text-align:justify;">Saat adzan subuh mulai terdengar, akupun beranjak dari ranjang dan pergi untuk berwudhu.</p>
<p style="text-align:justify;">…..</p>
<p style="text-align:justify;">“ Waaah..! Mbak Sephia ini, pulang-pulang langsung punya warung besar begini. Komplit lagi?! Hebat!,” celoteh salah seorang ibu dan yang lain hanya mengiyakan. Sementara Aku hanya senyam-senyum menanggapi semua celoteh ibu-ibu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Belanjanya cuma ini aja, Bu? Tidak sama yang lain sekalian,?” ucapku kemudian sambil  menyodorkan bungkusan plastik berisi barang belanjaan kepada  ibu tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak ada uangnya lagi, Mbak Sephia. Nanti lagi deh,” jawab ibu tersebut sambil menyodorkan uang dan kemudian mangambil bungkusan yang aku sodorkan tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah hampir 4 bulan ini, semenjak aku memutuskan untuk pulang. Dan membuka warung sembako. Uang tabungan dipakai sebagian untuk bisa membuka usaha ini. Mungkin memang bukan uang halal, tapi ini adalah jalan menuju perubahan yang baik menurutku saat ini. Toh, para penduduk sini sepertinya sudah bisa menerima diriku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu di tempat Sephia sebelumnya….</p>
<p style="text-align:justify;">“E-eh, Bang Joni! Kemana aja?! Sudah lama tidak pernah keliatan,” ucap Mami sambil mendekati seorang laki-laki.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, Mam. Biasa. Sibuk ngurusin proyek di luar kota nih,” jawab lelaki yang dipanggil Joni itu, sambil tersenyum kepada Mami yang sekarang sudah menggandeng dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Banyak duitnya, dong?!” ucap Mami. Dan mereka pun tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mana sephia?,” tanya Joni sambil matanya berkeliling mencari sosok yang dia sebutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aduuuh…, masih ingat aja sama sephia. Dia sudah tidak bekerja lagi di sini, Bang. Sudah 4 bulan ini dia berhenti, pulang kampung! Mau tobat katanya,” jawab Mami sambil cekikikan geli.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Akh, yang bener?! Sephia? Tobat?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Mami hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum genit. Sementara kekecewaan mulai tergambar di wajah joni.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tenang saja, Bang Joni. Kita kebetulan punya Primadona baru, kok! Sudah 2 bulan ini menggantikan Sephia,” ucap Mami lagi, mencoba menghibur hati joni yang kecewa. Joni hanya melirik ke arah Mami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bang Joni pasti suka! Bentar yah..”</p>
<p style="text-align:justify;"> Lalu Mami ngeloyor masuk ke dalam salah satu kamar yang ada. Dan tidak lama kemudian keluar dari kamar itu, sambil menggandeng seorang perempuan dengan dandanan serba minim.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini orangnya, Bang Joni,” ucap Mami sambil menarik tubuh perempuan itu untuk mendekati joni.</p>
<p style="text-align:justify;">Lama Joni mengamati sosok perempuan yang di sodorkan Mami ke hadapannya. Dia perhatikan dari ujung kaki sampai kepala. Cantik! Dan berubahlah segera rasa kecewa itu, berganti dengan perasaan senang dan penuh hasrat.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya Joni..,” ucap Joni memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Wanita itupun tersenyum sedikit malu-malu, “Saya Imah, Bang..”</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak lama kemudian, Jonipun merangkul tubuh perempuan yang bernama Imah itu menuju kamar. Sambil melepaskan acungan jempol ke arah Mami. Dan Mamipun tersenyum senang karena pelanggannya merasa puas.</p>
<p style="text-align:justify;">..</p>
<p><a href="http://www.copyscape.com/duplicate-content/"><img title="Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page." src="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" alt="Protected by Copyscape Duplicate Content Finder" width="120" height="60" border="0" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=149&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/24/perempuan-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/490x280-pic2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">490X280 PIC2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menukar Kehidupan</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/19/menukar-kehidupan/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/19/menukar-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 18:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak tahu lagi apa yang aku rasa saat ini. Setelah hampir sepuluh tahun lebih membina rumah tangga dengan Keysha, kehidupan kami masih saja berada dalam harapan menunggu datangnya buah hati. Seorang anak yang mungkin bisa membuat kehidupan kami lebih ramai dan sempurna, jauh dari rasa sepi seperti yang kami rasakan selama ini. Tapi bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=177&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/bayi11mggu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-178" title="bayi11mggu" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/bayi11mggu.jpg?w=300&#038;h=192" alt="" width="300" height="192" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak tahu lagi apa yang aku rasa saat ini. Setelah hampir sepuluh tahun lebih membina rumah tangga dengan Keysha, kehidupan kami masih saja berada dalam harapan menunggu datangnya buah hati. Seorang anak yang mungkin bisa membuat kehidupan kami lebih ramai dan sempurna, jauh dari rasa sepi seperti yang kami rasakan selama ini. Tapi bukan berarti kehidupan kami berdua tidak bahagia, hanya saja kami berdua masih tetap merasa ada sesuatu yang kurang dalam kebahagiaan itu.<span id="more-177"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Segala cara telah kami coba, dari berobat ke dokter spesialis yang terkenal sampai pengobatan alternatif. Tapi sampai saat ini belum juga membuahkan hasil. Harapan-harapan itu masih tetap berada dalam menunggu dan bukan hal yang mudah untuk bisa bertahan dalam keyakinan untuk membesarkan hati kami berdua setelah berkali-kali gagal. Tidak dapat kami pungkiri, semakin hari semakin terasa terkikis habis keyakinan itu. Padahal dari semua hasil pemeriksaan dokter, kami berdua dinyatakan dalam keadaan sehat wal a’fiat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak bisa menahan kesedihan yang begitu mengguncang perasaan, ketika harus melihat Keysha bersedih setiap kali waktu menstruasinya datang. Padahal sudah hampir 2 minggu lebih telat datang dari jadwal yang biasanya. Kegembiraan yang sesaat datang, keyakinan yang tiba-tiba tumbuh lagi menjadi besar, seketika hancur lebur dan hilang sama sekali. Menjadi rasa putus asa dan jauh dari keyakinan, bahwa kami akan dapat memiliki keturunan seperti orang lain. Aku tidak kuasa melihatnya menangis terisak di dalam toilet kamar mandi, menutup wajah dengan kedua tangannya. Sakit sekali aku rasakan di dalam dada ini, melebihi rasa sakit yang Keysha rasa. Ya, Tuhan.. Apa salah dan dosa kami?</p>
<p style="text-align:justify;">Meski rasa sakit itu begitu terasa mengguncang ketegaran diri, namun harus tetap berusaha untuk tidak menunjukan kepada dirinya akan hal itu. Setiap saat, aku harus bisa tersenyum dan terlihat tegar untuk bisa membuat dirinya kembali kepada keyakinan itu dan tersenyum. Meski aku sendiri telah jatuh pada rasa putus asa. Keysha akan menangis dalam pelukanku hingga merasa lelah, lalu tertidur. Betapa aku sendiri dibebani perasaan yang bertubi-tubi ketika melihat wajah cantiknya itu, terlelap tidur meraih mimpi-mimpi yang belum juga ia raih dalam kehidupan nyata. Sementara aku sendiri berada dalam rasa yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Ingin rasanya memaki Tuhan atas semua yang terjadi dan mempertanyakan tentang permainan hidup yang tengah Dia ciptakan? Tapi aku tahu dan tetap berusaha meyakinkan diri, bahwa aku tidak boleh melakukan itu, bahwa Tuhan Maha Sempurna, Maha Mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi setiap hamba-hamba-Nya. Dan aku? Aku diam, kembali mencoba untuk pasrah dengan apapun yang telah ditetapkan-Nya untukku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga suatu hari aku bermimpi bertemu dengan seorang Lelaki Tua berjanggut putih, serta mengenakan jubah yang sama putih lagi panjang. Dalam mimpi itu ia menuturkan bahwa aku bisa memiliki keturunan sebagaimana juga orang lain dengan syarat; kami mau menukar kehidupan kami untuk kehidupan anak kami itu, dalam artian salah satu dari kami akan mati,meninggalkan dunia ini selama-lamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya aku tidak terlalu terpengaruh dengan mimpi itu, sampai saat mimpi itu terus datang setiap malam dalam cerita yang sama. Hingga mulai merasa bahwa mimpi itu sebagai petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Tapi aku merahasiakan hal ini kepada Keysha, atas dasar pertimbangan bahwa hal ini belum tentu benar. Dan seandainya pun hal ini benar adanya, aku tidak mau semua itu malah menjadi masalah baru bagi kami berdua. Tapi serta merta hal itu cukup mengganggu diriku setiap saat, karena mimpi itu seolah menunggu jawaban akan kesediaanku untuk menukar kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas hal itu merupakan pilhan yang sulit. Kehidupan siapakah yang harus ditukar untuk kehidupan buah hati kami? Kehidupanku atau kehidupan Keysha? Apalah artinya semua kebahagiaan yang kami rasa? Jika pada akhirnya kami juga harus kehilangan diri kami satu sama lain. Apalah arti kebahagiaanku atas kelahiran buah hati kami, jika pada akhirnya aku harus kehilangan Keysha? Demikian juga sebaliknya, apalah arti kebahagiaan yang akan dirasakan Keysha jika pada akhirnya ia harus kehilangan diriku? Ya, Tuhan.. permainan apalagi ini??..</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat sempat berfikir untuk merelakan kehidupanku sebagai pengganti kehidupan buah hati kami. Sebab merasa, bahwa selama ini tidak ada hal istimewa yang telah kulakukan dalam kehidupan ini. Aku hanya lelaki biasa dengan kehidupan biasa, bukan orang penting yang memiliki jasa atas kehidupan dalam berbangsa dan bernegara ataupun berjasa dalam kehidupan banyak orang. Aku hanya aku semata. Bahkan aku merasa bahwa, semua persoalan yang kini tengah kami alami, semua itu karena diriku dengan semua dosa-dosa masa laluku. Aku merasa telah menyeret Keysha dalam persoalan hidup yang menanggung beban atas semua dosa-dosaku. Mungkin ada baiknya, jika memberikan kebahagiaan hidup kepada Keysha dengan menukar kehidupanku demi bayi yang selama ini kami damba-dambakan. Setidaknya, aku bisa merasa bahagia telah memberikan kebahagiaan kepada dirinya. Meskipun pada akhirnya, aku juga telah memberi kesedihan dengan kematianku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi.. entahlah, aku merasa belum siap untuk meninggalkan kehidupan ini. Apalagi jika mengingat dosa-dosa yang selama ini telah kulakukan. Sepertinya kematian itu menjadi begitu menakutkan pada akhirnya. Apalagi bayang-bayang tentang siksa neraka yang begitu menciutkan nyali ini. Dan tentang surga itu sendiri? Aku tidak pernah tahu apakah mungkin surga itu akan kuraih? Sedangkan banyak dosa yang selalu ku buat selama aku hidup, sampai detik ini. Ah, benar-benar suatu pilihan yang sulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika aku menginginkan kehidupan Keysha yang menggantikan, sepertinya menjadi tidak berartinya semua kebahagiaan yang aku dapat saat anak kami lahir. Toh, selama ini yang aku inginkan adalah agar lebih bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama Keysha dan juga bersama buah hati kami tercinta. Bukan dengan kehilangan salah satu di antara kami. Apakah aku mampu hidup bersama dengan anak kami tanpa ada Keysha  dalam kehidupan ini? Aku tidak akan mampu melewati hari-hari bersama buah hati kami. Apa yang aku tahu tentang mengurus seorang bayi? Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, setelah merasa yakin bahwa aku tidak mampu menukar kehidupan kami berdua demi kehadiran buah hati yang selama ini kami harapkan. Dalam mimpi itu, aku utarakan jawabanku kepada Lelaki tua berjanggut putih itu. Dan dia hanya tersenyum dalam kharisma yang ia miliki, sepertinya mengerti akan keputusan dan pilihan yang telah aku buat. Semenjak itu pula, Lelaki Tua dengan janggut putih itu tidak pernah lagi datang menemuiku dalam mimpi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sungguh tidak aku sangka-sangka apa yang aku dapati kemudian. Pada saat menceritakan kepada Keysha perihal mimpi itu. Keysha tiba-tiba marah kepadaku karena aku telah menolak untuk menukar kehidupan demi kelahiran buah hati kami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana sih kamu itu, Mas?! Kenapa kamu tidak menjawab kepada Lelaki Tua itu, bahwa aku rela menukar kehidupanku demi anak kita?! Aku rela, Mas! Asalkan kamu bisa bahagia dengan kelahiran anak kita. Aku rela, mas! Demi kamu!” ucap Keysha marah kepadaku  dalam menangis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejenak tertegun, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Segera aku membantah semua perkataan Keysha,”Aku tidak akan sanggup kehilangan kamu, Sayang! Meski pada akhirya aku berbahagia memliki keturunan, buah cinta kita! Tidak tidak, jangan gila kamu! Bagaimana mungkin aku sanggup menukar kehidupanmu demi buah hati kita?! Sedangkan yang aku inginkan adalah kita hidup bahagia bersama-sama.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi semua alasanku itu juga dibantah oleh Keysha, dengan alasan bahwa selama ini yang dia inginkan adalah memberi keturunan untuk ku. Dia rela meninggalkan dunia ini, karena dia sendiri tidak kuasa menahan beban rasa, karena merasa tidak mampu memberikan keturunan yang aku idam-idamkan. Bukan hanya untukku, tapi juga keluarga besarku yang selama ini begitu berharap bisa segera menimang cucu. Mengingat aku adalah putra tunggal dari keluargaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mencoba menjelaskan kepadanya semua alasan yang membuat aku memilih untuk tetap bersama, dengan tidak menukar kehidupan satu diantara kami. Keysha sama sekali tidak bisa menerimanya dan malah mengatakan kepadaku bahwa aku terlalu egois karena memberi jawaban kepada Lelaki Tua berjanggut putih itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan dirinya. Sekali lagi, aku coba menjelaskan kepada Keysha akan alasannya. Dan kembali, Keysha tidak bisa menerima semua alasan yang aku berikan. Ya, Tuhan.. Ada apa lagi ini??</p>
<p style="text-align:justify;">Secara tiba-tiba, kehidupan kami berdua berubah drastis. Keysha masih tetap menganggap diriku terlalu egois, sedangkan diriku menganggap dirinya sudah kehilangan akal sehat. Kehidupan rumah tangga kami menjadi semakin sepi. Setiap saat selalu berisi pertengkaran dan pertengkaran karena merasa paling benar atas apa yang kami pikirkan. Entahlah…</p>
<p style="text-align:justify;">Kami jadi jarang bertegur sapa, selalu bersikap dingin di hadapan satu sama lain. Tidak ada lagi kemesraan yang biasa terjadi diantara kami. Dingin dan sepi. Bahkan, semakin hari semakin jauh, saling menghindar dengan menyibukan diri dengan pekerjaan di kantor. Sering pulang larut malam, tanpa mempertanyakan apa yang kami lakukan hingga pulang selarut itu. Bahkan, rasa cemas dan khawatir sepertinya sudah tidak lagi ada di dalam hati kami. Pertengkaran dan hanya pertengkaran yang pada akhirnya terjadi, ketika aku berusaha untuk mengembalikan semua keadaan seperti semula. Keysha masih saja menuduh aku sebagai penyebab kehidupan kami menjadi seperi sekarang ini. Ya, Tuhan.. kenapa seperti ini??</p>
<p style="text-align:justify;"> Tidak dapat dihindari pada akhirnya, perceraian itu pun terjadi dalam kehidupan pernikahan kami. Bunga-bunga cinta yang selama ini semerbak mewangi menghiasi kehidupan kami, telah mati. Menjadi luapan kemarahan untuk saling menyakiti. Aku sempat merasa menyesal atas pilihan yang telah kubuat dulu. Andai saja aku mengetahui bahwa akan seperti ini akhirnya. Ketika pada akhirnya aku tetap kehilangan Keysha dalam kehidupanku. Mungkin aku akan lebih memilih untuk menukar kehidupan salah satu dari kami untuk kehidupan buah hati kami. Tapi… semua sudah terjadi. Aku hanya bisa kembali pasrah dengan apa yang telah di tetapkan-Nya untukku.</p>
<p style="text-align:justify;">…..</p>
<p style="text-align:justify;">Lima tahun berlalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sebuah tempat rekreasi yang berupa taman bunga, sebuah bola plastik menggelinding pelan sampai akhirnya berhenti saat menyentuh kakiku. Seorang bocah terlihat tengah berlari menghampiri bola itu. Sesaat berhenti menatapku setelah bola itu berada dalam genggaman tangannya. Aku tersenyum..</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihat sayang.. Kakak sedang main bola tuh..” ucapku kepada Keke, anakku, yang berada dalam pangkuan. Keke menatap bocah itu malu-malu. Aku segera menurunkannya dari pangkuan, menghadapkan dirinya dengan bocah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Halo Kakak, namaku Keke. Kakak ganteng namanya siapa?,” ucapku mencoba memperkenalkan Keke dengan bocah itu. Mereka saling menatap ragu dan malu-malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba.. Seorang perempuan yang aku pikir dia adalah Ibu dari bocah itu menghampirinya dan berdiri di belakang bocah itu sambil menatap diriku lekat-lekat. Awalnya tidak begitu menyadari akan sosok perempuan itu. Sampai saat aku berdiri dan melihat jelas sosok perempuan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Keysha?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mas Haris?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Lama kami berdiri dalam rasa tidak percaya mendapati siapa sosok yang kini ada di hadapan satu sama lain. Setelah bertahun-tahun saling menghilang tanpa jejak. Hari ini, kami dipertemukan kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">“I-itu anakmu?” tanyaku sambil memandang bocah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Keysha menganggukan kepala,” Iya, namanya Rama.” Lalu tersenyum sambil menatap Keke,” Dan itu  anakmu?.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kini aku gantian yang menganggukan kepala sambil tersenyum. Lalu bertanya lagi kepadanya, “Papanya?”</p>
<p style="text-align:justify;">Keysha menolehkan kepada seorang lelaki tampan yang saat tengah berjalan mendekati mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mamanya?” Keysha balik bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang perempuan yang tengah duduk tidak jauh dari tempat kami berdiri, segera bangkit menghampiri kami ketika pandangan mataku seolah mengisyaratkan kepadanya untuk mendekat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini Mamanya Keke..” ucapku memperkenalkan Istriku kepada Keysa kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya sore itu, kami berkumpul bersama membawa keluarga baru kami masing-masing. Tidak ada yang menjadi beban bagi kebersamaan dua buah keluarga kami, meskipun aku dan Keysha pernah hidup bersama sebelumnya. Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan kepada kami setelah menukar kehidupan kami dan juga kisah cinta kami. Sebuah keluarga yang baru, lengkap dengan kehadiran buah hati kami masing-masing, Keke dan Rama. Dan mungkin, aku dan Keysha akan membina kembali kehidupan kami seperti yang dulu bersama mereka. Mungkin….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=177&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/19/menukar-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/bayi11mggu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bayi11mggu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menculik Matahari</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/13/menculik-matahari/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/13/menculik-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 05:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Pagi kemarin aku telah berhasil merubah warna langit menjadi hitam sama sekali. Teduh. Tidak ada terik matahari yang biasa membakar kulit ini, membuatku merasakan lemas seharian dengan keringat dan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Hal itu terjadi, ketika aku memutuskan untuk bangun pagi-pagi sekali tepat pada saat adzan subuh mulai terdengar. Dengan tergesa-gesa aku lari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=173&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/sinset4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-174" title="sinset4" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/sinset4.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pagi kemarin aku telah berhasil merubah warna langit menjadi hitam sama sekali. Teduh. Tidak ada terik matahari yang biasa membakar kulit ini, membuatku merasakan lemas seharian dengan keringat dan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Hal itu terjadi, ketika aku memutuskan untuk bangun pagi-pagi sekali tepat pada saat adzan subuh mulai terdengar. Dengan tergesa-gesa aku lari untuk bisa sampai di puncak gunung. Dan pada saat matahari baru saja akan menampakan diri, sebelah matanya aku colok dengan jariku sampai ia mengaduh kesakitan. Lalu jatuh merebah sambil berguling-guling menahan perih. Dengan segera aku ikat tubuhnya dengan menggunakan rantai dan menggemboknya. Hahaha.. betapa senangnya hatiku saat itu.<span id="more-173"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada satu orangpun yang tahu dimana matahari itu aku sembunyikan. Dan tidak juga akan ku katakan kepadamu sekarang. Tidak tidak… ini akan menjadi rahasia diriku semata. Resikonya terlalu besar! Jika sampai banyak orang yang tahu akan perbuatanku ini. Nyawa jadi taruhannya! Karena semua orang pasti tidak suka dengan apa yang aku lakukan pada matahari itu. Dan sudah pasti juga, mereka akan menggelandang pelaku yang telah berani-berani menghilangkan matahari dari peredarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya aku tidak terlalu membenci matahari itu. Semua ini aku lakukan hanya karena pekerjaanku semata, sebagai tukang yang biasa bekerja memperbaiki jalan-jalan yang rusak atau ikut membantu membuat galian kabel. Pekerjaan yang lebih sering dikerjakan pada waktu-waktu matahari sedang terik-teriknya, seperti pada saat bulan Ramadhan ini. Entahlah, sudah bertahun-tahun aku sama sekali tidak bisa sepenuh berpuasa seperti kebanyakan orang. Sebab rasa haus selalu aku rasakan. Tubuh yang selalu berkeringat dan menjadi hitam legam. Semua gara-gara matahari yang selalu saja tidak mau berlaku ramah kepadaku selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah! Bagaimana sinarnya menciptakan bayangan hantu yang menari-nari dijalan-jalan beraspal yang sedang aku perbaiki. Lalu bagaimana dengan tubuhku yang hanya berlapis kulit ini?! Hangus dan Gosong!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku rindu.. sungguh-sungguh merasakan kerinduan yang amat sangat untuk bisa merasakan kemenangan lagi seperti dulu, saat gema takbir bergema diseluruh penjuru negeri. Sebagai manusia yang menang menjalani ujian Tuhan di bulan yang penuh rahmat dan barokah ini. Bulan yang penuh pengampunan, dimana semua doa akan dikabulkan. Tapi…</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, semua ini memang salahku juga. Yang selama ini begitu bodoh dan malas untuk bisa bersemangat dalam menimba ilmu di sekolah dulu. Mungkin, mungkin jika aku mau gigih mengalahkan keadaan keluargaku yang miskin dan tidak begitu saja pasrah menerima. Aku tidak akan menjadi manusia bodoh yang hanya mengecap pendidikan sampai sekolah dasar. Itupun tidak lulus! Jadi wajar, jika pada akhirnya pekerjaan sebagai tukang, seperti yang kulakukan saat ini, menjadi satu-satunya pekerjaan yang mau menerima manusia tanpa ijasah seperti aku. Ah, bodohnya…</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika datang ke tempat dimana matahari kusembunyikan. Aku melihatnya tengah tertunduk lesu dengan wajah sedih. Sejenak menoleh kearah diriku yang mendekatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mengapa kau lakukan ini kepadaku?” tanyanya kepadaku kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku hanya tersenyum kepadanya,”Maafkan aku…”</p>
<p style="text-align:justify;">Tatap matanya seolah menusuk tepat ke jantungku, membuat rasa bersalah yang sejak awal kumiliki semakin menjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lepaskan aku. Aku mohon….”</p>
<p style="text-align:justify;">“Maafkan aku. Sungguh aku tidak bisa…”</p>
<p style="text-align:justify;">Rona kecewa begitu terlihat setiap kali aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk kembali bebas. Wajahnya kembali tertunduk dan.. Hei! Aku melihat airmatanya jatuh satu-satu membasahi tanah. Ah, kenapa dia seperti ini? Bukankah matahari itu selalu terlihat sangar dan penuh kemarahan? Terik yang selama ini ia berikan kepada manusia menunjukan hal itu selama ini. Tapi sekarang?</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudahlah.. tidak perlu kau menangis seperti itu. Aku sungguh-sungguh terpaksa melakukan hal ini..” ucapku kemudian, sedikit menyembunyikan perasaan bersalahku padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Katakan kepadaku akan alasan dirimu melakukan semua ini, mungkin aku bisa menerimanya..”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam.. haruskah aku katakan kepadanya tentang semua alasan diriku melakukan semua in? Aku adalah hamba Tuhan yang tidak pernah menjalani semua perintah-Nya, bahkan untuk berpuasa di Bulan ini. Bagaimana mungkin Tuhan akan mengabulkan semua permintaanku jika demikian adanya diriku? Anakku harus bisa sekolah setinggi-tingginya, agar kelak tidak bernasib sama seperti aku. Lalu menjadi hamba Tuhan yang selalu bisa menjalani perintah-Nya. Dan Tuhan pun akan mengambulkan semua permintaannya. Keluargaku butuh makan, butuh untuk mendapat kehidupan yang layak. Agar tidak selalu mengeluh dan menyalahkan diriku dan juga Tuhan atas kehidupan sulit yang mereka jalani.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku butuh berpuasa! Aku butuh Tuhan untuk mengabulkan semua keinginanku itu! Bagaimana bisa doa-doaku terkabulkan? Jika aku selalu saja tidak berpuasa hanya karena pekerjaanku setiap hari. Yang selalu bergelut dengan panas, rasa haus, gerah dan marah. Semua yang di sebabkan karena matahari tidak mau sedikit saja mengerti akan keadaanku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi, kau menyalahkan aku atas ketidak mampuanmu melewati ujian Tuhan dengan puasa dibulan Ramadhan ini?” tanya matahari kemudian, setelah pada akhirnya kuceritakan semua alasanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menganggukan kepala,”Iya..”</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari tertawa mendengar jawabanku. Sialan! Aku merasa diperolok olehnya saat ini. Sungguh aku tidak bisa menerimanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa kamu tertawa? Merasa lucu? Atau menganggap aku bodoh?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, kau memang manusia bodoh!” jawab matahari dalam sisa tawanya. Lalu tambahnya lagi,”Kau menyalahkan diriku atas ketidak mampuanmu mengalahkan dirimu sendiri?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali Matahari tertawa. Senang sekali dia bisa melakukan hal itu disaat-saat seperti ini. Sialan!</p>
<p style="text-align:justify;">“Lalu? Aku harus menyalahkan diriku sendiri, begitu?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, tidak juga… Tapi terdengar aneh, jika kamu menyalahkan aku atas semua itu”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam. Sebenarnya sulit untuk bisa memahami ucapan Matahari. Wajarlah, aku ini nyata-nyata tidak pernah bersekolah hingga tamat. Pastilah bodoh dan pasti juga sulit untuk mengerti ucapan Matahari..</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku memang orang bodoh. Sekolahpun aku tidak pernah tamat. Kau tahu itu?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Sejenak matahari tertegun mendengar penuturanku. Menatapku tidak percaya. Dan tawanya seketika berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau kau bodoh. Mana mungkin kau bisa merencanakan penculikan ini,” ucap matahari kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam tertunduk. Rasa sesal kini semakin mengarah kepada diriku sendiri. Sungguh aku tidak ingin melakukan perbuatan sekejam ini kepada matahari. Aku hanya ingin doaku dikabulkan Tuhan! Aku hanya ingin bisa berpuasa tahun ini! Apa salah?!</p>
<p style="text-align:justify;">“Lepaskan aku…”pinta matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lepaskan.. maka akan aku katakan sesuatu yang hebat tentang dirimu”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sedikit terkejut mendengar ucapan matahari. Apa benar ada sesuatu yang hebat dari diriku?</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak. Kau hanya ingin membodohi diriku!”</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari tersenyum, “kau masih percaya bahwa dirimu itu adalah orang bodoh?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Sialan! Matahari sepertinya telah menjebakku dengan semua kata-kata yang ia ucapkan. Tapi aku tidak ingin lekas percaya begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa jaminannya?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari tersenyum lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“JIka kau tidak merasa bangga dengan apa yang aku katakan. Kau boleh mengikat diriku kembali..” ucap matahari dengan bersungguh-sungguh.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya, akupun sedikit percaya akan ucapannya dan melepaskan juga ikatan rantai yang membelit tubuhnya. Mataharipun terlihat senang karena telah terbebas dari belenggu yang membelit tubuhnya sedari kemarin. Lalu berdiri di hadapanku dengan melepas tatapan yang membuat diriku terkesima.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau tau… Kau adalah manusia yang baik. Kau hebat! Aku mengagumi semua keinginanmu untuk bisa berpuasa, meski mengharapkan agar doamu itu dikabulkan oleh Tuhan. Sedangkan banyak dari manusia yang jauh lebih mudah kehidupannya darimu, sama sekali tidak berkeinginan untuk melaksanakan puasa ini dengan sungguh-sungguh. Padahal, tidak ada halangan bagi mereka sebagaimana yang kau alami selama ini. Selain mereka kalah oleh diri mereka sendiri, oleh nafsu dan keinginan mereka yang selalu ingin bersenang-senang,” ucap matahari panjang lebar padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terhenyak. Seolah tersadarkan akan diriku sendiri. Semua karena ucapan matahari!</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudahlah.. jangan kau terus menerus hanya memiliki keinginan dan keinginan semata, tanpa mau berusaha untuk bisa mencapai keinginan itu dengan bertindak dengan sunggu-sungguh.. Percayalah, Tuhan Sangat Mengetahui bagaimana hamba-hamba Nya. Tuhan tidak pernah pilih kasih dalam mengabulkan doa-doa kalian. Jangan pula kau salahkan aku, karena aku hanya melakukan tugas yang telah diberikan Tuhan kepadaku, sebagai ujian kepada kalian, manusia-manusia ciptaan-Nya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lama aku berdiam diri dalam termenung. Kini aku bisa memahami apa yang dikatakan matahari kepadaku. Mungkin selama ini aku terlalu memandang rendah diriku sendiri. Mungkin selama ini aku sama sekali tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dalam berpuasa. Mungkin aku terlalu berprasangka buruk akan Tuhan. Mungkin…</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kejadian itu, masih tidak ada yang mengetahui sebab hilangnya matahari selama ini. Ini tetap menjadi rahasiaku dengan matahari. Aku bersyukur telah mengenalnya dengan baik, meski dengan cara yang sedikit aneh.  Tapi, setidaknya saat ini, antara diriku dan matahari, setiap saat selalu saling menebar senyuman. Tidak ada yang tahu persahabatan yang tiba-tiba saja ada di antara kami. Ini menjadi rahasia kami. Hanya aku dan matahari yang tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=173&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/08/13/menculik-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/08/sinset4.jpg?w=257" medium="image">
			<media:title type="html">sinset4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pangeran Kubil dan Istana Janji</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/29/pangeran-kubil-dan-istana-janji/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/29/pangeran-kubil-dan-istana-janji/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 11:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada seorang pun yang akan tahu rencana Tuhan, apa yg Tuhan kehendaki atas dunia dan kehidupan ini, atas diri kita sebagai manusia. Perkenalkan namaku Anto Kubil, seorang laki-laki yang lahir dari rahim seorang Ibu yang seorang pelacur. Aku tercipta dari benih seorang laki-laki yang Ibu sendiri tak tahu pasti, dari lelaki yang mana benihku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=162&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/small2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-163" title="small2" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/small2.jpg?w=300&#038;h=235" alt="" width="300" height="235" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada seorang pun yang akan tahu rencana Tuhan, apa yg Tuhan kehendaki atas dunia dan kehidupan ini, atas diri kita sebagai manusia. Perkenalkan namaku Anto Kubil, seorang laki-laki yang lahir dari rahim seorang Ibu yang seorang pelacur. Aku tercipta dari benih seorang laki-laki yang Ibu sendiri tak tahu pasti, dari lelaki yang mana benihku ini berasal.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terbiasa dipanggil Kubil, walaupun sebenarnya nama pemberian Ibunda tercinta adalah Yanto Priyanto, nama dengan pengulangan kata “anto”, yang ketika ku tanyakan hal itu kepada Ibu mengapa seperti itu, ibu hanya menggelengkan kepalanya. Ya, itu mungkin karena Ibu sudah terbiasa dengan kata pengulangan yang dipengaruhi oleh pekerjaan Ibu dulu. Yang selalu berulang-ulang disetiap semalam melayani para lelaki hidung belang, lagi dan lagi<span id="more-162"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ya, aku Kubil. Dipanggil Kubil karena katanya tubuhku ini penuh dengan kudis dan kutil. Kudis yang bukan hanya ada di sekujur tubuh, tapi juga di wajahku dengan kulit yang mengeriput kecil-kecil berwarna merah dan juga putih. Serta tonjolan-tonjolan kecil yang menyerupai kutil.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata ibu, aku ini mirip dengan Pangeran dari negeri dongeng, dari cerita yang dulu sering ibu dengar saat Ibu masih kecil. Tapi ketika ucapan Ibu itu aku sampaikan kepada semua orang, sebagian orang tertawa sambil berkata “Iya, elo emang kaya pangeran, tapi pangeran yang dikutuk!” Ucapan mereka itu cukup menambah keyakinanku akan ucapan Ibu, bahwa aku adalah seorang Pangeran, meski hanya seorang Pangeran yang tengah dikutuk. Ya, aku adalah Pangeran Kubil.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu dimana istanaku?..</p>
<p style="text-align:justify;">Istanaku adalah bangunan megah yang berdiri kokoh di atas sanggahan balok dan bambu. Dimana dinding istanaku terbuat dari kardus industri, tanpa jendela tanpa kaca dan pintu. Istanaku terletak tak jauh dari Istana milik Bapak President. Hanya berjarak 20 kali belokan ke kanan, 32 kali belokan ke kiri, dan 10 jalan lurus. Sebuah Istana yang berdiri di samping rel kereta api, tidak terlalu jauh juga dari tempat ibu dulu biasa menjajakan kenikmatan kepada banyak lelaki. Tapi sekarang, Ibu adalah Ratu di Istana itu. Istana yang kami bangun dengan janji untuk selalu bersama dalam kondisi apapun, dalam suka dan duka</p>
<p style="text-align:justify;">Suara deru kereta yag melintas adalah nyanyian syahdu yang didendangan untuk diriku. Selalu saja mampu membawa diriku terlelap dalam mimpi malam yang indah. Belum lagi suara irama melayu yang sayup-sayup terdengar dari tempat dimana ibu dulu bekerja. Perpaduan nada-nada indah sebagai teman yang selalu aku rindukan setiap saat mereka hilang. Ketika ada penertiban yang tiba-tiba saja ramai dilaksanakan. Semua menjadi sepi, membuat diriku gelisah dan merindu, untuk bisa mendengar lagi, lalu kembali bisa meraih lelap. Tapi untungnya mereka selalu kembali dan kembali…</p>
<p style="text-align:justify;">Aku Kubil, Pangeran Kubil. Orang-orang selalu menyanjung dan memuja diriku setiap saat aku melintas di depan mereka, memandangku dengan tatapan mata yang terpesona dan kagum. Atau dengan malu-malu mereka saling berbisik, mengucap kata puja-puji serta sanjungan kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kadang aku selalu mendapat sambutan meriah dari anak-anak kecil setiap kali aku datang ke daerah mereka. “Kubil jelek..! Kubil jelek…!” atau “Kubil gila..! Kubil gila…!” dan ”Kubil kudis…! Kubil kutil..! Kubil bintil..!” Betapa bangganya aku menerima semua kemeriahan dalam sambutan mereka yang penuh cinta itu. Terkadang para pemuja itu histeris manakala melihatku dan kemudian memukul dan melempari aku dengan batu, sandal atau apapun yang bisa mereka raih. Ya, layaknya seorang selebritis. Tapi aku adalah seorang Pangeran yang mereka puja dan sanjung-sanjung.</p>
<p style="text-align:justify;">Hidangan makananku adalah anugerah yang diberikan dari para pemuja, dari sebuah Restoran yang cukup besar. Dimana setiap saaat dengan segala kehormatannya mereka melemparkan semua hidangan itu ke tempat sampah. Hidangan yang tak pernah berhenti untuk selalu mereka berikan dengan cuma-cuma untuk aku, Pangeran Kubil.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap hari aku selalu pergi berburu atas titah Ibu dengan menunggangi kedua kaki yang tak sama panjang, berbalut pelana sandal jepit warna warni yang aku dapati dari setiap pemuja yang histeris saat mereka melihat diriku. Dan dengan segala rasa hormat mereka kepadaku, mereka melemparnya tepat di wajah ini. Oh, betapa hebatnya aku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berburu di setiap sudut-sudut rimba jalan kota, di setiap danau selokan, di pasar-pasar tradisional, di gedung perkantoran ataupun di Mall. Senjataku adalah senjata pusaka pemberian ibu, sebuah besi yang panjang dengan ujung kepalanya berbentuk seperti mata pancing. Dan sudah barang tentu juga, aku tidak akan terlupakan sebuah karung besar tempat aku menyimpan semua hasil buruanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan berburu yang selalu menarik bagiku meski dalam terik matahari. Disaat lelah, aku selalu berhenti dan melepaskanya rasa kantukku dengan bersandar di pohon-pohon rindang berlantai keramik, hutan pertokoan yang terlupakan lagi sepi. Semilir angin yang berhembus seolah membelai lembut wajahku, sejuknya udara kabut asap pabrik dan knalpot, menjadikan tempat peristirahatan ini menjadi semakin sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Buruanku adalah hewan kelinci berlabel air mineral, Ular kardus, Babi panci rombeng, Kijang plastik, dan masih banyak lagi. Ketika senja mulai datang, aku kembali pulang ke istana. Disambut Ibunda Ratu dengan senyuman terindah dan kemudian Ibunda membawa hasil buruanku. Aku sendiri tak pernah tahu kemana Ibunda Ratu membawa seluruh hasil buruanku setiap hari. Yang terlintas dalam pikiranku hanyalah semua itu Ibu berikan untuk semua rakyat memujaku, mereka yang membutuhkannya. Atau untuk acara pesta para pejabat Istana. Aku selanjutnya akan terlelap di atas ranjang terbaik, ranjang tanah yang berlapiskan tumpukan kardus, busa dan koran bekas.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku adalah Kubil, Sang Pangeran. Hari ini aku harus bertempur, berperang melawan puluhan prajurit lalim yang berseragam coklat, hijau dan juga bertopi. Karena mereka akan merebut dan menghancurkan istanaku. Istana yang aku bangun bersama Ibunda Ratu dengan janji. Aku tidak rela!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang selama ini ditakuti oleh hampirsemua pemujaku, mereka yang terkenal kejam tanpa belas kasih dan mereka yang terkenal tak pernah kalah dalam pertempurannya. Tapi tidak untuk hari ini. Aku Pangeran Kubil dan Ibuku adalah adalah Ratu dari Istana yang kami bangun dengan janji, dengan seluruh jiwa raga kami. Tidak akan ku biarkan mereka mendekat dan menyentuh sedikitpun Istanaku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat, Ibu! Lihat! Bagaimana ganasnya Putra kebanggaanmu ini melawan keberingasan mereka! Tak ada rasa gentar dihatiku sedikitpun, aku rela mati hari ini. berbekal senjata pusaka pemberian ibu. Aku ayunkan dengan cepat dan lincahnya ke semua arah, menghantam mereka bertubi-tubi. Tanpa perduli meski mereka bersenjatakan lengkap dengan tameng, penutup kepala dan sepatu tapal besi. Sesekali senjata pusakaku berbentur dengan senjata mereka yang melonjong hitam. Sementara Ibunda bersembunyi dalam gemetar di dalam Istana…</p>
<p style="text-align:justify;">?Jangan mendekat!! Lihat apa yang telah kalian lakukan pada ibunda Ratu?! Lihat..!!” teriakku marah saat melihat Ibunda yang ketakutan seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bagaimanapun juga mereka memang terkenal pantang menyerah, mereka yang memang tak pernah kalah, mereka yang memang tak pernah berbelas kasih. Mereka yang pada akhirnya di waktu hari semakin gelap, secara tiba-tiba menghantamkan senjata mereka yang lonjong hitam itu tepat di tengah batok kepala ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Oh, apa yang terjadi?! Tiba-tiba lautan darah mengalir memenuhi seluruh wajah dan kepalaku. Sesaat pandanganku terhalangi oleh darah yang jatuh menutupi kedua mata ini. Aku tidak merasakan sakit ketika senjata mereka yang lonjong hitam itu menghantam batok kepala ini. Yang aku rasakan adalah sebuah sentuhan yang melembutkan segala rasa dihati ini. Aku tertegun sesaat dan tersadar. disaat aku mendengar terikan Ibunda Ratu dalam tangisan, ”Antoo…!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu berlari cepat berhambur keluar Istana menuju ke arahku. Namun sebelum sampai, tiba-tiba tangan-tangan kasar menahan tubuh Ibu yang kemudian meronta-ronta menyebut namaku…Antoo..!! Antoo…!!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku beranjak dari ketertegunanku dan berlari geram menuju mereka yang menahan tubuh Ibu. Senjata pusaka aku acungkan kelangit setinggi-tingginya, ku kibaskan berputar siap untuk menerjang. Namun tiba-tiba.., BUKK!! Sentuhan lembut itu kembali menghantam batok kepalaku. Aku mencoba untuk tetap berdiri, menopang tubuh pada senjata pusaka dalam genggaman. Tapi.., “BUK!! BUK!! BUK!! Sentuhan-sentuhan yang penuh dengan kelembutan itu terlalu menyentuh alam sadarku. Akupun terlena dan jatuh!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam terkapar, dalam samar pandangan kedua mata yang terhalangi luapan darah. Dalam keterlenaan yang hampir sampai, aku masih bisa melihat bagaimana Ibu masih terus menjerit dan meronta…</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu, saat semua belum terlalu gelap dalam pandanganku. Aku masih bisa melihat bagaimana Istana yang aku bangun dengan janji bersama Ibunda Ratu, telah rata dengan tanah. Dan kemudian aku semakin terlena dalam gelap pandanganku. Semakin gelap dan hilang sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=162&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/29/pangeran-kubil-dan-istana-janji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/small2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">small2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anakku, Anak Yang Istimewa</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/27/anakku-anak-yang-istimewa/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/27/anakku-anak-yang-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 11:38:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Akh, tatapan mata itu lagi. Mengapa mereka selalu melepas tatapan mata seperti itu, seolah mereka benar-benar perduli. Tidak, mereka tengah mentertawakan diriku saat ini. Menyalahkan semua hal yang terjadi pada anakku adalah karena kesalahan diriku. Sudahlah! Janganlah kau perdulikan kami. Tidak perlu kau berpura-pura merasa iba, tapi sebenarnya kau tidak menginginkan aku dan anakku berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=159&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/idiot.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-160" title="idiot" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/idiot.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Akh, tatapan mata itu lagi. Mengapa mereka selalu melepas tatapan mata seperti itu, seolah mereka benar-benar perduli. Tidak, mereka tengah mentertawakan diriku saat ini. Menyalahkan semua hal yang terjadi pada anakku adalah karena kesalahan diriku. Sudahlah! Janganlah kau perdulikan kami. Tidak perlu kau berpura-pura merasa iba, tapi sebenarnya kau tidak menginginkan aku dan anakku berada di dekat kalian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Stop! kiri depan, Bang!” teriakku kepada supir angkot yang aku naiki . Dan tak lama kemudian angkot itupun berhenti. Bergegas aku turut sambil menyeret Rangga, anakku. Aku ingin segera  pergi menghindari tatapan mata itu. Tidak bisakah mereka untuk tidak memperdulikan kami?! Saat aku membayar angkot ini, seorang lelaki muda yang duduk dikursi depan, di samping supir pun, melepas pandangan yang sama kepada anakku. Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah pemuda itu.</p>
<p style="text-align:justify;">…<span id="more-159"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aku tarik tangan Rangga untuk cepat-cepat menghindar dari tatapan mata-mata itu. Dan seperti biasa, dia hanya mengikuti apa yang aku perbuat dengan pandangan kosong tanpa ekspresi. Ah, kenapa dengan dirimu, Nak?! Tidakkah kau lihat bagaimana mereka melecehkan dirimu?! Tapi percuma berbicara denganmu, kau tak akan pernah mengerti dan akan sulit untuk kamu mengerti hal-hal seperti ini. Sedangkan untuk membedakan angka 1 dan 2 pun kau butuh berbulan-bulan untuk mengerti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baru pulang, Bu Rangga?,” tiba-tiba suara sapaan mengejutkanku, saat sudah berada di dalam gang menuju rumahku. Seketika langkahku terhenti. Seorang tetangga yang kebetulan sedang berada di luar rumah, Ibu retno. Dia salah satu tetangga yang cukup baik kepada kami selama ini. Dia satu-satunya tetangga yang begitu baik memperlakukan Rangga, seolah Rangga selayaknya anak-anak lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“E-eh, iya, Bu. Baru pulang..” jawabku cepat dalam gugup, karena sedari turun dari angkot aku tergesa-gesa jalan tanpa menoleh ke kiri-kanan jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu Retno tersenyum, lalu ia juga tersenyum kepada Rangga. “Eh, Rangga, kok, diem aja ditanya sama ibu? Ayo, jawab doong… Rangga habis pulang sekolah, yah?,” tanya Ibu Retno dengan lembut dan penuh kasih. Lalu ia berjalan menghampiri Rangga. Membungkukan tubuhnya. Sementara Rangga malah menyembunyikan wajahnya di belakangku. Karena mendapati sikap anak Rangga yang bersembunyi, Ibu Retno menegakan kembali posisi tubuhnya, sambil tangannye membelai lembut rambut kepala Rangga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, sudah, Bu. Kami permisi dulu,” ucapku kemudian. Dan Ibu Retno hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat melangkah meninggalkan Ibu Retno, aku melihat Rangga sempat menoleh ke arahnya, sambil tersenyum. Dan akupun melihat Ibu Retno  melambaikan tangan kepada Rangga. Ah, cuma dia satu-satu orang yang benar-benar tulus dalam memberi perhatian kepada Rangga di daerah tempat tinggalku.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Rangga akhirnya tertidur juga. Setelah sebelumnya dia berteriak-teriak marah, memukuli diriku, dan melempar semua barang yang ada dirumah. Hanya karena aku ingin mengganti seragam sekolahnya. Setelah dia merasa lelah dengan semua yang dia lakukan. Akhirnya dia mau untuk aku gantikan pakaiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu memang berbeda, Anakku. Semua orang yang melihatmu, pasti bisa langsung mengetahui kalau dirimu memang berbeda. Wajahmu bulat seperti bulan. Dokter menyebutnya <em>M</em><em>oon F</em><em>ace</em>, dengan mata yang menyipit dengan sisinya seolah tertarik. Jidatmu yang melebar panjang, mulutmu yang tak pernah berhenti terbuka mengeluarkan air liur. Kau memang berbeda, Anakku&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Entah mengapa kau selalu mengamuk jika menginginkan sesuatu yang ibu tidak mengerti apa maksudnya. Atau ketika Ibu tidak berkenan memenuhi maumu, atau saat Ibu memintamu melakukan hal-hal kecil untuk dirimu sendiri. Seperti makan, mandi dan berganti pakaian. Dirimu selalu saja berteriak-teriak marah, melempar apapun yang bisa kau lempar, memukuli ibu sedemikian rupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ataukah kamu sendiri merasakan kemarahan sebagaimana ibu, Nak? Kamu marah dengan keadaanmu yang tidak normal itu? Kamu marah dengan kepada Tuhan yang telah menciptakan kamu? Kamu marah kepada Ibu yang telah melahirkan kamu dengan keadaan seperti ini?! Kamu marah. Marah pada semua yang ada?! Maafkan ibu, Nak… Semua memang salah Ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Tuhan, mengapa Engkau bebankan kepada anakku semua kesalahanku? Aku mungkin rela dengan semua hukuman yang akan Engkau berikan kepadaku. Tapi mengapa semua Engkau limpahkan semua kepada anakku? Apa salahnya kepada-Mu? Aku tak sanggup membayangkan kehidupannya kelak. Ketika aku tak lagi ada dalam kehidupan ini, ketika kau memanggilku pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan inipun masihlah dipandang bagi hamba-hambamu yang terlahir sempurna itu, adalah kehidupan yang keras dan berat. Lalu Bagaimana dengan anakku?! Bagaimana dia akan menjalani kehidupan yang kejam dan keras ini kelak? Sedang dia tak pernah tahu mana hitam, mana putih?.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku belai lembut rambut kepala Rangga, begitu lelap dia tertidur. Wajahnya seolah tersenyum. Akupun tak mengerti apa yang ada dalam mimpinya hari ini. Begitu indahkah mimpi itu bagimu, Nak? Tidurlah.., bermimpilah.., biarkan tidurmu menjadi satu-satu jalan bagi dirimu untuk sejenak menghilang dari kehidupan ini. Hilang dari tatapan mata  mereka kepadamu, yang merasa iba sekaligus risih dan juga takut. Tidurlah, Nak… Tidur dan bermimpilah..</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Di dapur aku diam termangu. Bayang-bayang masa lalu kembali hadir. Dulu disini. Aku dan suamiku bertengkar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak.Tidak! Tidak mungkin dia itu anakku. Tidak mungkin!” ucap Mas Hendro saat itu. Aku mendapati perkataannya itu yang seolah menuduh diriku. Tentu saja aku tidak terima.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mas! Jadi kamu menuduh aku berselingkuh dengan lelaki lain, begitu?!” teriakku membela diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika Mas Hendro membalikan arah tubuhnya membelakangi aku.“Aakh! Aku gak tau! Yang pasti tidak mungkin dia anakku. Tidak mungkin anakku seorang idiot! Tidak ada dalam keluargaku itu keturunan idiot!!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mas!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu Mas Hendro mengemasi semua barangnya dan tak pernah kembali lagi. Mungkin dia malu memiliki anak yang terbelakang seperti Rangga. Atau mungkin dia sendiri tak tahu harus berbuat apa untuk kehidupan Rangga kelak. Sebagaimana yang aku rasa saat ini. Sungguh, hati ini setiap saat serasa tercabik-cabik disaat membayangkan kehidupannya kelak. Apakah mungkin dia bisa merasakan kehidupan sebagaimana orang yang normal? Kegembiraan dalam bermain, sekolah setinggi-tingginya, jatuh cinta, menikah dan memiliki keturunan. Ya, Tuhaaan… Apakah mungkin?</p>
<p style="text-align:justify;">Dada ini begitu sesak, sesesak-sesaknya ku rasa. Sakit! Sakit rasanya jika mengingat semua itu. Bagaimana aku bisa percaya kepada kebaikan semua orang itu? Jika seorang lelaki yang seharusnya menjadi ayah bagi dirinyapun pergi. Dan setiap saat aku  mendapati pandangan mata yang sama seperti tadi. Ya, Tuhan,… Airmata itupun jatuh.. satu persatu. Perlahan, lalu menjadi lebih deras ketika sesak semakin terasa atas ketidak berdayaanku merubah semua keadaan ini. Dalam bayanganku, anakku berdiri dalam linangan airmata, dalam gemetar ketakutan. Dimana orang-orang di sekelilingnya mengejeknya, “Anak bego..! Idioot..! Bocah bego.. idioot…!” Mereka berkeliling meneriakan kata-kata itu sambil tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak! Tidak akan aku biarkan mereka melakukan semua itu kepada buah hatiku tercinta. Tak akan aku ijinkan!!</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika tangisku terhenti, berubah menjadi kemarahan yang tercerminkan dari desahan nafasku yang memburu. Aku raih sebuah pisau dan bergegas berjalan menuju kamar dimana Rangga tidur. Maafkan ibu, Nak!</p>
<p style="text-align:justify;">….</p>
<p style="text-align:justify;">“Astagfirullah, Len..” ucap Ibu Retno tak percaya atas apa yang baru saja aku ceritakan kepadanya. Di tangan ini masih menggegam pisau.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah. Sudah.., syukur kalau kamu cepat tersadar, Nak” Ibu Retno mencoba menenangkan aku yang tengah menangis meraung-raung dalam pelukannya. Diraihnya pisau dari genggaman tanganku dan tangisku pun semakin pecah.</p>
<p style="text-align:justify;">“A-aku gak sanggup, Bu&#8230; A-aku gak bisa membayangkan kehidupan anakku nanti, Buu…” ucapku disela-sela tangis. Tangisan yang ingin ku lepas dalam peluk ini. Aku tak mampu untuk menghentikan tangis ini. Sesak itu semakini menjadi-jadi. Tidak! Aku tidak ingin  menghentikan tangis ini. Selama ini, semua itu hanya terlepas dalam tetesan airmata yang bisu. Aku ingin semua terlepas dalam tangisan yang meraung-raung saat ini. Aku lemah! Bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu bagi anakku?! Rangga butuh seorang Ibu yang tegar yang setiap saat ada dan kuat untuk membela dirinya. Tidak seperti diriku saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesedihanpun tergambar dari wajah Ibu Retno. Dia tidak percaya saat mendapati diriku berdiri di depan rumahnya dengan tubuh gemetar, penuh keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Di tanganku sebuah pisau tergenggam dengan erat dan dia semakin tak percaya bahwa aku tadi berniat untuk menghabisi nyawa Rangga, anakku.</p>
<p style="text-align:justify;">..</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kamar itu, aku dan Ibu retno berdiri menatap Rangga yang masih tersenyum, terbuai dalam mimpi indah tidurnya. Aku masih sesegukan, sisa tangis masih tertinggal. Dengan penuh kasih, selayaknya seorang ibu, direngkuhnya tubuhku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihatlah, Lena… Dia adalah Rangga anakmu. Anakmu, Len?! Apa yang salah darinya?” ucap Ibu Retno kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku hanya bisa diam dan masih dalam sisa tangisku</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan pernah kau lihat dia sebagai anak yang berbeda, Len.  Lihatlah dia sebagai anak yang sama seperti juga anak-anak yang lain dan dia adalah anak yang istimewa! Perlakukan dia selayaknya anak yang tidak terbelakang. Ajarkan dia tentang kemandirian hidup, bukan ketakutan. Jangan biarkan dia selalu tergantung kepadamu, Len”</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat aku tertegun mendengar ucapan Ibu Retno. Dan beliau membalas tatapan itu dengan senyuman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku merasa tak bisa melakukan semua itu seorang diri, Bu” ucapku lirih.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu Retno kembali tersenyum. Ditatapnya diriku lekat-lekat,”Ingat, Sayang.. Tuhan selalu memiliki tujuan atas apapun yang telah Dia ciptakan, tidak terkecuali Rangga. Mintalah.., minta pertolongan kepada-Nya. Mintalah perlindungan- Nya.. Untuk kehidupan Rangga hari ini dan esok. Percayalah.., Dia Maha Mendengar dan Maha mengabulkan”</p>
<p style="text-align:justify;">Akupun terduduk di sisi tubuh Rangga yang tertidur. Aku belai rambut kepalanya. Airmatapun jatuh lagi satu-satu. Ku kecup kening Rangga. Maafkan Ibu, Nak..</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau tak akan pernah tahu apa yang dapat dilakukan oleh anak istimewa seperti Rangga, Len. Jika dirimu setiap saat  dihantui ketakutan” ucap Bu Retno lagi. Aku tatap sesaat Ibu Retno, kembali ia hanya membalas dengan senyuman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maafkan..,maafkan, Ibu, Nak” ucapku lirih mendekap kepala Rangga. Hari ini dan seterusnya, kamu adalah anak Ibu yang paling istimewa, spesial! Yang lebih hebat dari mereka. Kita akan merubah tatapan itu menjadi satu tatapan penuh kekaguman akan dirimu, Nak. Ya, mereka harus mengetahui bagaimana sempurnanya kamu diciptakan.</p>
<p style="text-align:justify;">..</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=159&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/27/anakku-anak-yang-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/idiot.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">idiot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Kesalahan</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/13/satu-kesalahan/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/13/satu-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 02:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Satu kesalahan, yang berlanjut dengan kesalahan yang lain. Dan kemudian akan aku bawa melewati hari-hari berikutnya dengan kesalahan-kesalahan yang baru. Ya, ini memang salahku. Semua salahku. Kesalahan yang kulakukan ketika aku merasa bahwa Cinta itu indah. Keindahan yang membutakan mata, hati dan logika. Tapi kemudian dengan perlahan membunuhku, membuat diri ini merasa sebagai perempuan paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=143&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/hurt8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-155" title="hurt8" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/hurt8.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Satu kesalahan, yang berlanjut dengan kesalahan yang lain. Dan kemudian akan aku bawa melewati hari-hari berikutnya dengan kesalahan-kesalahan yang baru. Ya, ini memang salahku. Semua salahku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan yang kulakukan ketika aku merasa bahwa Cinta itu indah. Keindahan yang membutakan mata, hati dan logika. Tapi kemudian dengan perlahan membunuhku, membuat diri ini merasa sebagai perempuan paling tolol sedunia; merasa paling hina dan tak berarti; melemparku ke dalam timbunan sampah manusia.<span id="more-143"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tangis ibu. Aku masih ingat tangisan Ibu ketika aku ungkapkan semua kesalahanku kepadanya. Disusul dengan kemarahan Bapak. Kemarahan yang tiba-tiba saja membuat Bapak lepas kendali. Dan memberi tanda merah di pipi ini.  Tak ada kata maaf kudapatkan. Tak termaafkan mungkin…</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan itu. Kesalahan yang membuat Ibu dan Bapak merasa sebagai orangtua yang gagal. Menghancurkan semua harapan, impian dan cita-cita mereka atas diriku. Menghanguskan semua kemesraan yang dulu kami miliki. Berganti dengan tangis Ibu dan diamnya Bapak memendam kecewa.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah aku bersimpuh dalam hujan airmata. Ketika pertama kali aku menyadari apa yang harus kutanggung dari kesalahan itu. Bersimpuh dalam memohon ampunan dan maaf. Mengharap kesempatan baru dan juga keajaiban. Memohon waktu untuk bisa diputar kembali. Tapi ini adalah kesalahanku. Yang terjadi tetaplah terjadi. Tak ada jawaban yang kudapat saat itu dan sampai hari ini. Akhirnya kusadari,  ini memang salahku…</p>
<p style="text-align:justify;">Karena kesalahanku. Aku harus bersembunyi setiap saat. Tak mampu menegakan kepala setiap aku berjalan. Tak sanggup aku bertemu dengan wajah-wajah yang kukenal ataupun tidak kukenal. Setiap saat  harus lari menghindar. Bahkan merasa, bahwa aku tak pantas lagi bersimpuh dan memohon ampunan Langit. Aku terhinakan karena kesalahanku. Menghinakan diriku sendiri di hadapan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kamar. Aku hanya diam dalam penantian waktu. Sedetik demi sedetik, semenit demi semenit. Lalu hari berganti minggu dan bulan. Lelahnya aku dalam penantian. Bosan kadang menghinggapi diriku. Temanku sepi, temanku penyesalan. Sahabatku ada bayang-bayang peristiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali aku mengintip perubahan waktu dari jendela yang tertutup. Ketika matahari datang lalu pergi. Berganti senja dan malam. Sampai akhirnya sang matahari itu kembali lagi. Aku berharap waktu itu cepat berlalu. Sehingga aku mampu dan berani untuk menampakan wajahku lagi. Tapi semua berjalan begitu lamban dan aku terpuruk dalam kehampaan yang semakin hampa.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan itu. Kesalahan yang kubuat ketika aku biarkan diriku terpesona oleh semua keindahan dan kebaikan dari seorang laki-laki. Keterpesonaan yang aku pikir itulah cinta yang aku cari. Aku pikir, dialah jawaban dan harapan diri tentang seorang kekasih. Lalu membiarkan diriku terbuai dalam semua bujuk rayunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan yang kubuat. Ketika aku biarkan dia datang menghampiri diriku dengan senyuman termanis; terlena oleh tawanya yang ceria; terbuai sorot matanya yang tajam; hanyut dalam semua kisah dan cerita hidupnya; percaya sepenuhnya pada lelaki itu; merasa senang dengan semua rayuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga aku membiarkan tangan itu menggenggam jari tanganku, mengecupnya mesra; mengecup kening ini; mencium bibir ini; menjilat telinga ini dan seluruh tubuhku. Aku hanya diam membiarkan tangannya menjelajahi seluruh tubuh ini; merebahkan tubuhku di ranjang;  hilang dalam nikmat yang sesaat; melepas kesadaran itu begitu saja. Dan pada akhir ketika semua kenikmatan itu tercapai, aku baru menyadari bahwa aku telah kehilangan banyak dari milikku yang paling berharga. Itu kesalahanku…</p>
<p style="text-align:justify;">…..</p>
<p><a href="http://www.copyscape.com/duplicate-content/"><img title="Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page." src="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" alt="Protected by Copyscape Duplicate Content Finder" width="120" height="60" border="0" /></a></p>
<p><a href="http://www.copyscape.com/duplicate-content/"><img title="Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page." src="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" alt="Protected by Copyscape Duplicate Content Finder" width="120" height="60" border="0" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=143&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/13/satu-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/hurt8.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hurt8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>4 Tuhan + 1</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/12/4-tuhan-1/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/12/4-tuhan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 00:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Setelah imam meletakan sarung, sajadah dan peci selepas pulang dari mesjid menunaikan sholat magrib berjamaah, imam menghampiri bapaknya. “Pak, kenap kita sholat di mesjid  dan bukan di gereja, kuil atau Pura? Seperti Kristian, Wayan dan Acong?,” tanya Imam pada Bapaknya. “Lho, tumben nanya seperti itu?” Bapak balik bertanya. “Pengen tau aja..” “Hmm, itu karena agama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=137&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/religion.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-138" title="religion" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/religion.jpg?w=298&#038;h=300" alt="" width="298" height="300" /></a>Setelah imam meletakan sarung, sajadah dan peci selepas pulang dari mesjid menunaikan sholat magrib berjamaah, imam menghampiri bapaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak, kenap kita sholat di mesjid  dan bukan di gereja, kuil atau Pura? Seperti Kristian, Wayan dan Acong?,” tanya Imam pada Bapaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, tumben nanya seperti itu?” Bapak balik bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pengen tau aja..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda,Nak” Bapak mencoba menjelaskan. Udin hanya diam mendengar penjelasan bapaknya. Meski masih ada yang mengganggu pikirannya.<span id="more-137"></span></p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;">Sepulang dari gereja, Kristian menghampiri papanya</p>
<p style="text-align:justify;">“Pah, kok kita beribadahnya ke Gereja, sich? Kenapa gak ke Mesjid, kuil atau pura atau klenteng seperti Imam, Acong dan Wayan?,” tanya Kristian pada papa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Heeh, tumben anak papa nanyanya begitu,”ucap Papa sedikit heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pengen tau aja…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda, Nak,” ucap papa menjelaskan. Kristian hanya diam mendengar penjelasan papanya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">….</p>
<p style="text-align:justify;">Acong bertanya pada papinya setelah mereka selesai sembayang,”Pih, kenapa  kita sembahyangnya gak di mesjid atau gereja seperti Wayan, Kristian dan Imam sih?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, ada apa nih? Tumben anak papih nanyanya kaya begitu”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pengen Tau aja..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda,nak,” ucap Papi menjelaskan. Acong hanya diam mendengar penjelasan Papinya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">….</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah ke tiga sahabatnya bertanya kepada orang tua masing-masing. kini giliran Wayan bertanya kepada ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah, kenapa kita sembahyangnya gak ke Mesjid atau Klenteng atau Gereja seperti Kristian, Imam dan Acong sih, yah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, hari ini sepertinya ada yang beda sama anak ayah nih?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pengen tau aja, Yah.. Boleh dong!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, itu karena agama dan keyakinan kita berbeda. Dan Tuhan yang kita sembah juga berbeda, Nak” ucap ayah menjelaskan. Wayan hanya diam mendengar penjelasan ayahnya. Meski masih ada yang mengganggu dalam pikirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">…..</p>
<p style="text-align:justify;">Sore itu, mereka berempat; Acong, Imam, Kristian dan Wayan, berkumpul di tanah lapang, di bawah pohon rindang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi menurut kalian gimana?,” tanya Imam kepada ke tiga temannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iye, gua bingung sebenarnya. Jawaban orang tua kita sama semua. Katanya Tuhan kita berbeda. Aneh..,” ucap Acong sambil menggelengkan kepala.</p>
<p style="text-align:justify;">“Heh! kayaknya kita mesti menggugat sama orang tua kita atau pak guru. Atau kirim surat ke pak President aja!” ucap Wayan bersemangat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ngapain?”tanya Imam penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, kita jelasin aja apa yang buat kita bingung,” ucap Kristian menyerobot Wayan yang baru akan menjelaskan. Akhirnya Wayan hanya menganggukan kepala membenarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm….”</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka semua berfikir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oke deh! Kita menggugat Pancasila aja ke Pak President!”ucap Imam bersemangat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Trus kita bilang apa sama pak President?” tanya Acong.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lo gimane sich, Cong? Kita bilang aja apa adanya. Bahwa Sila Pertama Pancasila itu gak cocok, Sila Ketuhanan yang maha ESA. Sedangkan Tuhan, seperti yang katakan orang tua kita aja berbeda-beda. Jadi Tuhan itu ada Empat, Tuhannya Imam, Tuhannya Kristian, Tuhannya loe, Cong dan Tuhannya gua” Wayan menjelaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh, iya ya.. Tuhan itu ada Empat,” ucap Acong kemudian sambil manggut-manggut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Akh, payah lo, Cong!” ucap Imam Sewot.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi apa hubungannya dengan Pancasila?” tanya Acong lagi telat mikir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bener-bener lo, Cong. ESA kan artinye Satu. Sedang kita punya Tuhan Berbeda-beda yang jumlahnya ada empat. Jadi Sila pertama Bukan ‘Ketuhanan Yang Maha ESA’ tapi jadi ‘Ketuhanan yang Maha…” Kristian berhenti sejenak dalam kebingungan, “Eh, kalo empat jadi apa sich?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Gak tau! Udah gak usah dibahas lagi!” jawab Imam kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba di depan mereka ada seorang lelaki Gila yang mereka kenal, Bang Husen. Yang stress karena di PHK dan ditinggal tunangannya. Tengah kambuh penyakitnya, sedang berteriak-teriak kepada semua orang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai Manusia!! Bertobatlah.. Sembahlah aku!. tuhan kalian!!..Huahahaha…!!”teriak bang Husen yang gila itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ke-empat bocah itu saling pandang, “Tuhannya nambah satu!!..” ucap mereka spontan serempak sambil tertawa cekikikan.</p>
<p style="text-align:justify;">……</p>
<p><a href="http://www.copyscape.com/duplicate-content/"><img title="Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page." src="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" alt="Protected by Copyscape Duplicate Content Finder" width="120" height="60" border="0" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=137&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/12/4-tuhan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/religion.jpg?w=298" medium="image">
			<media:title type="html">religion</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Hening</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/11/nyanyian-hening/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/11/nyanyian-hening/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 08:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Nyanyian hening. Aku dendangkan di sudut gelap malam, sendiri. Tanpa cahaya, tanpa warna pelangi. Hanya ada aku dan kensunyian yang bisu. Dimana hitam menjadi dewa, yang menciptakan bait-bait indah. Dan sementara aku berdiri dalam kesepian, dimana cinta datang lalu pergi. Meninggalkan perih dalam hati bersama rindu yang menyesakan dada. Aku sendiri dan masih aku sendiri. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=145&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Nyanyian hening. Aku dendangkan di sudut gelap malam, sendiri. Tanpa cahaya, tanpa warna pelangi. Hanya ada aku dan kensunyian yang bisu. Dimana hitam menjadi dewa, yang menciptakan bait-bait indah. Dan sementara aku berdiri dalam kesepian, dimana cinta datang lalu pergi. Meninggalkan perih dalam hati bersama rindu yang menyesakan dada. Aku sendiri dan masih aku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketegaran bukan tentang waktu hari ini, dia melayang-layang di cakrawala hidup. Menanti jiwaku untuk segera kembali.<span id="more-145"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Nyanyian hening. Aku dendangkan di sudut gelap malam, sendiri. Dalam letih berkelana, mencari jawaban atas hidup. Yang kudapat adalah jauh berlari dari apa yang kuharapkan. Tapi kehidupan memang demikian adanya. Tanpa perduli aku tetap bernyanyi. Sampai pagi tiba dan aku tak lagi kau goda dengan hasrat kesenangan yang menyesatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban atas hidup telah hilang ditelan waktu sampai kematian. Pergilah saja, Wahai Rembulan. Cahayamu musnah diterjang Sang Mentari. Selamat pagi.. Selamat pagi..</p>
<p><a href="http://www.copyscape.com/duplicate-content/"><img title="Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page." src="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" alt="Protected by Copyscape Duplicate Content Finder" width="120" height="60" border="0" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=145&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/11/nyanyian-hening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-3d-120x60.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Protected by Copyscape Plagiarism Checker - Do not copy content from this page.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA DALAM RINDU-RINDU</title>
		<link>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/10/cinta-dalam-rindu-rindu/</link>
		<comments>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/10/cinta-dalam-rindu-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 19:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geblexs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geblexs.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Seperti rindu ini kepadamu, seperti itu pula malam terlewatkan dalam sepi dan sendiri. Aku mengejar dirimu dalam bayang-bayang, aku berlari dengan semua imaji diri. Mencari senyummu, wangi tubuhmu, harum nafasmu, manis senyum dibibirmu, indah gelak tawamu. Sosok hantu dirimu yang ingin aku tangkap di setiap sunyi ini. Menggugat hati dalam rindu. Dimana kamu? Cinta berjarak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=128&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/cy2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-129" title="cy2" src="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/cy2.jpg?w=614" alt="" /></a>Seperti rindu ini kepadamu, seperti itu pula malam terlewatkan dalam sepi dan sendiri. Aku mengejar dirimu dalam bayang-bayang, aku berlari dengan semua imaji diri. Mencari senyummu, wangi tubuhmu, harum nafasmu, manis senyum dibibirmu, indah gelak tawamu. Sosok hantu dirimu yang ingin aku tangkap di setiap sunyi ini. Menggugat hati dalam rindu. Dimana kamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta berjarak, entah dalam jarak ribuan kilo meter, atau dalam jarak ruang dan waktu yang berbeda. Membuat cinta adalah nyanyian rindu-rindu. Dendang seorang pengelana yang kesepian. Rintihan seorang anak mengharap disusui ibunya. Dia adalah pencarian bagi jiwa ini. Dia adalah kehilangan yang tak pernah cukup dipertemukan. Dia adalah rindu dan hanya rindu. Cinta dalam rindu-rindu..<span id="more-128"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aku menikmati semua ini sebagai anugerah atas rasa yang kita miliki. Dan terkadang aku menyangsikan perjumpaan, apakah  setiap saat dia akan bisa membuat gairah itu bisa tetap ada? Sebagaimana gairah itu begitu terasa saat ini. Tapi semoga tidak. Aku masih menyimpan semua harap dan doa pada kebisuan malam. Disana pasti terdengar…aku ingin bersamamu selalu. Itu pintaku</p>
<p style="text-align:justify;">Dan selama cinta masih ada, maka rindu-rindu ini tak akan hilang. Dan sebagaimana cinta, rindu-rindu ini juga hanya untukmu…</p>
<p style="text-align:justify;">Kau tahu, betapa hebatnya rindu-rindu ini menjadikan kamu ada sebagai alam raya. Ketika Angkasa melukiskan wajahmu, ketika gemericik air menjadi gelak tawamu yang lepas, ketika hangat mentari pagi menjadi pelukan tubuhmu, ketika senja menjadi keindahan akan pesona dirimu, ketika hembusan angin yang lembut menjadi belaian mesra, ketika malam menjadi kebersamaan berdua, ketika bulan membias indah matamu, ketika kerlip bintang disana adalah hadirmu yang kutunggu..oh, adakah yang lebih hebat dari cinta ini. Cinta dalam rindu-rindu. Dan aku ingin senantiasa semua begitu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geblexs.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geblexs.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geblexs.wordpress.com&amp;blog=7191455&amp;post=128&amp;subd=geblexs&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geblexs.wordpress.com/2011/07/10/cinta-dalam-rindu-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c75ba86943e2e0a1cc6ca73532a5345?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">geblexs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geblexs.files.wordpress.com/2011/07/cy2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cy2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
